KEPULAUAN RIAU — Akamai Technologies Inc. resmi meluncurkan Akamai Workforce Protector, lapisan keamanan baru dalam platform mereka yang selama ini dipakai melindungi aplikasi, API, dan infrastruktur. Solusi ini dirancang mengendalikan aktivitas karyawan saat memakai AI, aplikasi SaaS, hingga mengakses data perusahaan.
Peluncuran ini menjawab pola kerja yang berubah. Aktivitas pekerja tidak lagi terbatas di jaringan kantor, melainkan berlangsung lewat berbagai koneksi digital—dari aplikasi SaaS, agen AI yang mengakses API, sampai beban kerja yang terhubung ke jaringan internal.
Workforce Protector menyediakan visibilitas terhadap aktivitas AI, pengendalian penggunaan AI, browser perusahaan yang aman, dan pencegahan kehilangan data secara real time. Solusi ini terintegrasi secara native dengan solusi akses privat global Akamai.
Salah satu fokus utamanya adalah mengatasi shadow AI. Perusahaan dapat mengidentifikasi penggunaan AI oleh karyawan sekaligus menerapkan kebijakan adaptif langsung selama sesi browser berlangsung.
Dari sisi perlindungan data, sistem dapat menghentikan informasi sensitif agar tidak diunggah ke model AI tanpa otorisasi. Sistem juga mencegah data dari aplikasi perusahaan diunduh ke perangkat karyawan.
Akamai menekankan aspek kemudahan penerapan. Kontrol keamanan bisa diterapkan tanpa mengharuskan karyawan berganti browser. Perusahaan juga tidak perlu merombak arsitektur jaringan yang sudah ada.
Pendekatan ini menempatkan kontrol keamanan langsung pada titik interaksi antara pengguna, aplikasi, AI, dan data perusahaan. Model keamanan berbasis perimeter dinilai semakin terbatas seiring perubahan pola kerja.
"Pekerjaan adalah aliran koneksi digital yang tak henti-hentinya," ujar Ofer Wolf, Senior Vice President, General Manager, Enterprise Security di Akamai.
"Dengan Akamai Workforce Protector, kami memastikan keamanan mengikuti karyawan dan agen AI yang mereka gunakan ke mana pun mereka bekerja, bukan sekadar melindungi gedung kantor. Kami ingin memberikan jaring pengaman yang dibutuhkan perusahaan agar dapat mengadopsi AI dengan percaya diri, tanpa memperlambat produktivitas tim maupun memaksa pengguna mengubah cara mereka bekerja," lanjutnya.
Akamai memposisikan Workforce Protector bukan sebagai pengganti sistem keamanan yang sudah dipakai perusahaan. Solusi ini melengkapi investasi pada teknologi seperti Security Service Edge (SSE), Cloud Access Security Broker (CASB), dan Data Loss Prevention (DLP).
Pendekatan tersebut diarahkan menutup celah yang masih muncul ketika karyawan berinteraksi dengan AI, SaaS, aplikasi web, aplikasi privat, maupun data perusahaan. Dengan integrasi ke portofolio keamanan Akamai, perusahaan dapat mengelola keamanan tenaga kerja, aplikasi, dan infrastruktur dalam satu kerangka.
Solusi ini juga memanfaatkan jaringan terdistribusi Akamai untuk menjaga konektivitas pengguna dengan aplikasi dan infrastruktur perusahaan dari berbagai lokasi.
Kebutuhan teknologi keamanan browser diperkirakan meningkat seiring pergeseran pola kerja digital. Mengutip Gartner Market Guide for Secure Enterprise Browsers, Akamai menyebut pada 2028 sebanyak 25% organisasi diprediksi melengkapi solusi akses jarak jauh aman dengan setidaknya satu teknologi secure enterprise browser.
Angka itu naik dari sekitar 10% saat ini. Proyeksi tersebut menunjukkan keamanan interaksi menjadi medan baru bagi perusahaan teknologi keamanan siber.
Bagi perusahaan, tantangannya bukan lagi sekadar memblokir ancaman dari luar. Yang jadi soal adalah memastikan setiap interaksi digital—termasuk ketika karyawan memakai AI—tetap dalam kendali organisasi tanpa mengorbankan produktivitas.