Pencarian

Meta Gunakan AI Analisis Struktur Tulang untuk Deteksi Pengguna Anak

Selasa, 05 Mei 2026 • 22:31:01 WIB
Meta Gunakan AI Analisis Struktur Tulang untuk Deteksi Pengguna Anak
Meta gunakan AI untuk analisis struktur tulang dalam mendeteksi pengguna di bawah usia 13 tahun.

Meta resmi menerapkan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mampu menganalisis struktur tulang dan postur tubuh untuk mendeteksi pengguna di bawah usia 13 tahun. Langkah agresif ini diambil guna membersihkan platform Instagram dan Facebook dari akun anak-anak yang memalsukan usia. Inisiatif tersebut menjadi jawaban Meta atas tekanan regulasi global yang semakin ketat terkait perlindungan privasi anak di ruang digital.

Meta mulai merinci strategi terbaru mereka dalam memitigasi keberadaan pengguna di bawah umur pada ekosistem Instagram dan Facebook. Perusahaan pimpinan Mark Zuckerberg ini tidak lagi hanya mengandalkan laporan manual, melainkan beralih ke sistem analisis visual berbasis kecerdasan buatan. Teknologi ini dirancang untuk memindai foto dan video guna mencari indikator fisik yang menunjukkan usia seseorang.

Bukan Pengenalan Wajah Melainkan Analisis Postur

Dalam penjelasan resminya, Meta menegaskan bahwa sistem ini bekerja secara anonim dan berbeda dari teknologi pengenalan wajah (facial recognition). Fokus utama AI ini adalah membedah tema umum dan petunjuk visual pada tubuh pengguna. Struktur tulang dan tinggi badan menjadi variabel utama yang dianalisis untuk mengestimasi rentang usia seseorang tanpa mengidentifikasi identitas personalnya.

"Kami ingin memperjelas: ini bukan pengenalan wajah," tulis Meta dalam unggahan blog resminya. "AI kami melihat tema umum dan isyarat visual, misalnya tinggi badan atau struktur tulang, untuk memperkirakan usia umum seseorang; sistem ini tidak mengidentifikasi orang spesifik dalam gambar."

Integrasi data visual ini akan disandingkan dengan analisis teks pada profil, unggahan, hingga takarir (caption). Jika sistem menemukan penyebutan kelas sekolah atau perayaan ulang tahun yang mengindikasikan pengguna masih anak-anak, algoritma akan memberikan skor risiko pada akun tersebut. Kombinasi wawasan visual dan tekstual ini diklaim mampu meningkatkan akurasi identifikasi akun di bawah umur secara signifikan.

Sanksi Deaktivasi dan Verifikasi Identitas

Meta tidak memberikan ruang bagi akun yang terdeteksi melanggar batas usia minimal 13 tahun. Jika kecurigaan sistem terbukti, perusahaan akan langsung menonaktifkan akun tersebut secara otomatis. Pengguna yang merasa salah sasaran diberikan kesempatan untuk mengajukan banding dengan syarat yang cukup ketat.

Pemilik akun wajib memberikan bukti identitas resmi yang menunjukkan bahwa mereka telah berusia 13 tahun atau lebih untuk mendapatkan akses kembali. Apabila bukti tersebut tidak diberikan dalam jangka waktu tertentu, Meta akan menghapus seluruh data akun secara permanen. Langkah ini merupakan bentuk kebijakan nol toleransi terhadap pemalsuan usia yang selama ini menjadi celah bagi anak-anak untuk masuk ke media sosial dewasa.

Ekspansi Global dan Tekanan Regulasi Uni Eropa

Implementasi teknologi ini dilakukan secara bertahap di beberapa negara sebelum dirilis secara global. Selain pembersihan akun anak-anak, Meta juga memperluas sistem deteksi untuk pengguna usia 13 hingga 15 tahun. Akun dalam rentang usia ini akan otomatis dimasukkan ke kategori Teen Accounts yang memiliki fitur pengawasan orang tua dan perlindungan privasi lebih ketat.

Sistem deteksi remaja ini mulai diuji coba pada Instagram di Brasil dan 27 negara Uni Eropa. Untuk platform Facebook, implementasi perdana dilakukan di Amerika Serikat sebelum menyusul ke Inggris dan wilayah Eropa lainnya bulan depan. Sementara untuk layanan pesan instan, WhatsApp baru-baru ini meluncurkan fitur akun yang dikelola orang tua khusus untuk anak di bawah 13 tahun.

Langkah masif Meta ini tidak lepas dari tekanan hukum yang sedang mereka hadapi. Pekan lalu, Komisi Eropa merilis temuan awal investigasi yang mengindikasikan Meta melanggar Digital Services Act (DSA). Regulator menilai raksasa teknologi ini belum melakukan upaya yang cukup untuk menjauhkan anak-anak dari konten yang berpotensi berbahaya di Facebook dan Instagram.

Bagikan
Sumber: engadget.com

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks