PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sukses mendampingi warga Desa Terong, Belitung, mengubah lahan bekas tambang timah menjadi destinasi wisata kreatif yang mampu meraup pendapatan hingga Rp 500 juta per tahun. Transformasi ini menjadi solusi pemulihan ekonomi lokal di tengah bayang-bayang kerusakan lingkungan akibat eksploitasi mineral di masa lalu. Langkah pemberdayaan ini sekaligus membuktikan bahwa kolaborasi komunitas dan sektor swasta mampu menciptakan nilai ekonomi baru yang berkelanjutan di luar sektor pertambangan.
Bentang alam Belitung selama puluhan tahun identik dengan lubang-lubang raksasa sisa galian timah. Sebagai wilayah yang pernah memasok 90 persen kebutuhan timah nasional, jejak kerusakan lingkungan terlihat jelas bahkan dari ketinggian 1.500 meter di atas pesawat. Namun, warga Desa Terong di pesisir utara Kabupaten Belitung memilih untuk tidak menyerah pada keadaan dan memulai inisiatif pemulihan sejak 2013.
Reklamasi Manual Selama Tiga Setengah Tahun
Kepala Desa Terong, Iswandi, mengungkapkan bahwa perjalanan membangun Desa Wisata Kreatif Terong bermula dari keinginan warga untuk ikut mencicipi kue ekonomi pariwisata pasca-meledaknya film Laskar Pelangi. Saat itu, arus wisatawan hanya tertuju pada Pantai Tanjung Tinggi dan Tanjung Kelayang, sementara Desa Terong hanya menjadi penonton di tengah lahan yang rusak.
Proses pemulihan lahan dilakukan secara swadaya dan sangat tradisional. Selama kurang lebih tiga setengah tahun, warga bergotong royong menutup lubang bekas tambang secara manual hanya bermodalkan cangkul dan sekop. Kerja keras ini dilakukan setiap akhir pekan, melibatkan seluruh elemen masyarakat mulai dari pekerja hingga pelajar yang sedang libur sekolah.
"Kita harus membuat sesuatu yang berbeda dari desa lain. Akhirnya kita membangun sebuah konsep mengembangkan desa wisata," ujar Iswandi saat berbincang di Belitung, akhir April lalu. Konsep ini terinspirasi dari Desa Wisata Pentingsari di Yogyakarta, yang merupakan salah satu desa binaan dalam program Corporate Social Responsibility (CSR) BCA.
Omzet Ratusan Juta dari Wisata Edukasi
Hasil dari jerih payah tersebut mulai membuahkan hasil pada 2016 saat desa mulai menjual paket wisata. Salah satu ikon utamanya adalah Wisata Aik Rusa Berehun, sebuah kawasan bekas tambang yang kini berubah fungsi menjadi area pertunjukan seni, pondok pertemuan, dan kolam pemancingan. Wisatawan diajak merasakan pengalaman langsung menghidupkan kembali lahan mati melalui jalur hiking dan kuliner lokal.
Salah satu produk unggulan yang diminati wisatawan adalah tradisi makan bedulang. Dengan harga paket Rp 250.000, pengunjung dapat menikmati aneka hidangan khas seperti ikan kuah kuning dan cumi goreng dalam satu dulang besar. Tradisi ini bukan sekadar urusan perut, melainkan edukasi nilai kebersamaan dan penghormatan kepada orang tua melalui tata cara penyajian yang spesifik.
Secara finansial, transformasi ini memberikan dampak signifikan bagi kas desa. Pada 2020, pendapatan desa dari sektor wisata sempat menyentuh angka Rp 500 juta per tahun. Meski angka tersebut sempat terkoreksi menjadi Rp 200 juta akibat pandemi Covid-19, geliat ekonomi masyarakat tetap terjaga melalui keterlibatan UMKM dan pengelolaan fasilitas wisata secara mandiri.
Inovasi Hutan Digital Pertama di Bukit Peramun
Selain Desa Terong, BCA juga memberikan pendampingan pada destinasi Bukit Peramun yang dikelola oleh Kelompok Hutan Kemasyarakatan Arsel sejak 2006. Destinasi yang terletak sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Tanjung Pandan ini menawarkan panorama Laut Cina Selatan dari puncak bukit granit setinggi 129 meter di atas permukaan laut.
Bukit Peramun mencatatkan prestasi sebagai Hutan Digital Pertama Berbasis Masyarakat di Indonesia yang diakui oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Pengelola memanfaatkan teknologi aplikasi pemandu virtual berbasis Android untuk membantu wisatawan mengenali berbagai jenis tanaman obat di dalam hutan. Inovasi ini muncul sebagai solusi keterbatasan jumlah pemandu wisata di lapangan.
Keberhasilan Desa Terong dan Bukit Peramun menjadi preseden penting bagi daerah lain di Indonesia dalam mengelola kawasan pascatambang. Melalui pendampingan yang tepat dari sektor perbankan dan semangat gotong royong warga, kerusakan lingkungan yang masif dapat dipulihkan menjadi aset ekonomi yang jauh lebih produktif dan ramah lingkungan dibandingkan aktivitas ekstraktif.