TANJUNGPINANG — Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Dinas Tenaga Kerja memulai pengembangan green jobs yang dirancang inklusif bagi perempuan dan kelompok rentan. Inisiatif ini merupakan langkah strategis untuk memperluas akses pekerjaan di sektor ramah lingkungan yang selama ini belum banyak terjangkau oleh kelompok tersebut.
Kepala Disnaker Kepri, Mangara Simarmata, menyatakan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada penciptaan lapangan kerja baru, tetapi juga pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia. “Kami ingin memastikan bahwa transisi menuju ekonomi hijau tidak meninggalkan siapa pun, terutama mereka yang selama ini berada di pinggiran pasar kerja,” ujarnya dalam sebuah forum diskusi di Tanjungpinang, pekan lalu.
Sektor Apa Saja yang Termasuk Green Jobs?
Lingkup green jobs yang dikembangkan mencakup beberapa sektor prioritas. Di antaranya adalah pengelolaan sampah berbasis daur ulang, energi baru terbarukan skala rumah tangga, pertanian organik, serta ekowisata. Disnaker Kepri menargetkan pelatihan keterampilan teknis akan diberikan kepada setidaknya 500 peserta dari kalangan perempuan dan penyandang disabilitas pada tahun pertama.
Program ini juga akan melibatkan pemerintah kabupaten/kota dan pelaku usaha lokal. Tujuannya, agar pelatihan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja hijau di masing-masing daerah, seperti di Batam, Bintan, dan Karimun.
Mengapa Kelompok Rentan Jadi Prioritas?
Data Disnaker Kepri menunjukkan bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di provinsi tersebut masih di bawah rata-rata nasional. Sementara itu, kelompok rentan seperti penyandang disabilitas kerap menghadapi hambatan ganda dalam mengakses pekerjaan formal. Mangara menambahkan bahwa green jobs menawarkan fleksibilitas yang lebih tinggi, sehingga cocok bagi mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas atau tanggungan keluarga.
“Dengan pendekatan yang tepat, sektor ini bisa menjadi jembatan bagi mereka untuk mandiri secara ekonomi,” kata Mangara.
Dampak bagi Perekonomian Daerah
Pengembangan green jobs inklusif diyakini tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga ekonomi. Disnaker Kepri memproyeksikan program ini mampu menyerap hingga 2.000 tenaga kerja baru dalam tiga tahun ke depan. Selain itu, pengurangan limbah dan efisiensi energi yang dihasilkan dari sektor ini dapat menekan biaya operasional rumah tangga dan usaha kecil.
Ke depan, Disnaker Kepri akan berkoordinasi dengan Balai Latihan Kerja (BLK) di setiap kabupaten/kota untuk menyusun kurikulum pelatihan yang aplikatif. Pemerintah provinsi juga tengah menjajaki kerja sama dengan sejumlah perusahaan di Batam yang bergerak di bidang energi surya dan pengelolaan limbah industri.