NATUNA — Komandan Guspurla Koarmada I Laksamana Pertama TNI Nurlan menekankan pentingnya pemahaman batas laut bagi nelayan di wilayah perbatasan. Natuna, yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Vietnam, menjadi titik rawan pelanggaran wilayah jika nelayan tidak memiliki pengetahuan yang cukup.
Kegiatan edukasi ini digelar bersamaan dengan pertemuan yang membahas dugaan keberadaan kapal ikan asing (KIA) di perairan Indonesia. Pertemuan berlangsung di Kantor Bupati Natuna dan dihadiri oleh Bupati, DPRD, perwakilan nelayan, serta para pemangku kepentingan terkait.
Dalam kesempatan itu, Laksamana Pertama TNI Nurlan menyebut nelayan sebagai mitra strategis aparat keamanan laut. "Nelayan adalah mata dan telinga TNI AL, dengan pengetahuan ini, nelayan bisa melaporkan secara akurat lokasi terjadi hal yang menyalahi aturan," ucapnya.
Ia menjelaskan, edukasi ini tidak hanya soal batas negara, tetapi juga cara melaporkan aktivitas mencurigakan secara tepat. Dengan laporan yang akurat, pihak berwenang dapat segera menindaklanjuti dugaan pelanggaran di laut.
Untuk memudahkan nelayan beraktivitas, TNI AL merekomendasikan penggunaan peta 38 A yang diterbitkan oleh Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal). Peta ini dinilai mutakhir dan mencantumkan batas wilayah negara secara jelas.
"Imbauan kepada teman-teman nelayan yang melaut adalah agar melengkapi diri dengan peta yang didistribusikan Pushidrosal. Pada peta tersebut sudah tercantum batas negara serta berbagai informasi navigasi yang diperlukan," kata Nurlan.
Nelayan juga diminta melengkapi perlengkapan navigasi yang memadai agar pelayaran lebih aman. Penggunaan peta terbaru diyakini dapat membantu nelayan mengetahui batas wilayah secara presisi, sehingga tidak khawatir memasuki perairan negara lain.
Selain memahami batas laut, nelayan diingatkan untuk mematuhi ketentuan zona penangkapan ikan yang telah ditetapkan. Kepatuhan terhadap aturan ini penting untuk menghindari persoalan hukum sekaligus menjaga ketertiban aktivitas perikanan di perairan Natuna.
Edukasi serupa direncanakan berkelanjutan mengingat posisi strategis Natuna sebagai daerah perbatasan. TNI AL berharap nelayan setempat semakin sadar hukum maritim dan mampu berperan aktif menjaga kedaulatan wilayah.