Pencarian

Ledakan di Intan Jaya, Papua, Melukai Perempuan Difabel dan Rusak Gereja

Rabu, 24 Juni 2026 • 08:59:31 WIB
Ledakan di Intan Jaya, Papua, Melukai Perempuan Difabel dan Rusak Gereja
Korban ledakan di Intan Jaya, Papua, dirawat intensif di RSUD Nabire.

KEPULAUAN RIAU — Ledakan yang terjadi sekitar pukul 13.00 WIT itu mengagetkan warga yang sedang beraktivitas. Aliana, seorang ibu empat anak yang juga penyandang disabilitas tuna wicara, mengalami luka parah di lengan kanan akibat serpihan. Ottopina Hogajau turut menjadi korban dalam insiden yang sama.

Kronologi Kejadian dan Kondisi Korban

Menurut laporan masyarakat yang diterima Human Rights Monitor, kedua korban baru saja pulang dari kebun dan tengah mencuci ubi di mata air dekat rumah mereka saat ledakan terjadi. Jemi Nabelau, putra Aliana, menuturkan bahwa ibunya ditemukan terkapar di samping tumpukan ubi dengan lengan kanan yang terkoyak dan mengeluarkan banyak darah.

"Kalau dekat dengan Mama, pasti Mama sudah hancur. Tapi karena ledakannya agak jauh, tapi tetap mengenai Mama," ujar Jemi saat diwawancarai pada Jumat (19/06).

Aliana sempat dirawat di RSUD Sugapa sebelum dirujuk ke RSUD Nabire pada Jumat (19/06) siang. Keluarga mengaku cemas karena luka sang ibu hanya dibalut perban tanpa tindakan operasi segera sejak hari pertama kejadian.

Trauma Berulang di Tengah Konflik

Kekhawatiran keluarga bukan tanpa alasan. Jemi mengungkapkan bahwa adik ibunya juga menjadi korban ledakan bom di Gereja Stasi Santo Paulus Nabuni, Kampung Mbamogo, Distrik Agisiga, pada Minggu (17/05) di tahun yang sama. Korban saat itu mengalami luka parah dan meninggal dunia setelah dilarikan ke rumah sakit di Timika.

"Kami sangat takut kondisi Mama sama seperti adiknya kemarin. Jadi, melihat luka Mama yang sekarang dibiarkan terikat saja tanpa tindakan operasi segera, kami sangat cemas infeksi akan menjalar," kata Jemi.

Warga Hidup dalam Bayang-Bayang Ketakutan

Masyarakat setempat menyatakan tidak ada aktivitas Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) di lokasi kejadian. Kawasan Kali Besar Dogabu yang kerap dianggap sebagai markas kelompok bersenjata oleh aparat, menurut warga, merupakan pemukiman padat yang mencakup tujuh kampung di tiga distrik.

Ledakan itu tidak hanya melukai warga, tetapi juga merusak Gereja GKII dan menimbulkan trauma mendalam. Akses warga untuk berkebun, mencari bahan makanan, dan menjalankan aktivitas sehari-hari semakin terhambat akibat situasi keamanan yang terus berlangsung.

Penanganan Medis dan Tuntutan Warga

Jemi mengkritik lambatnya penanganan medis yang diterima ibunya. Ia menilai koordinasi antara petugas kesehatan dari Sugapa dan rumah sakit di Nabire tidak berjalan baik. "Petugas dari Sugapa yang mendampingi juga seharusnya menjalin komunikasi dengan petugas di sini, menyampaikan rujukan dengan jelas supaya dokter bisa segera bertindak," ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, keluarga besar Aliana terus berjaga di ruang perawatan khusus pasien bedah RSUD Nabire dengan penuh kecemasan. Mereka berharap pemerintah dapat memberikan perhatian serius terhadap keselamatan warga sipil dan akses layanan kesehatan di wilayah konflik.

Bagikan
Sumber: bbc.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks