CEO Saint-Gobain, Benoit Bazin, dalam wawancara dengan Bloomberg TV pekan lalu mengungkapkan bahwa aktivitas konstruksi data center masih sangat kuat. Namun, ia secara spesifik menyoroti kelangkaan tenaga kerja sebagai salah satu hambatan utama yang sudah terasa di Amerika Utara dan mulai merambah Eropa. Pernyataan ini menjadi sinyal peringatan dini bagi industri yang selama ini lebih fokus pada masalah pasokan listrik dan GPU.
Data center modern tidak bisa dibangun oleh pekerja konstruksi umum. Proyek ini membutuhkan tenaga spesialis tinggi: teknisi tegangan tinggi, installer fiber optik, ahli HVAC (sistem pendingin), teknisi commissioning, dan insinyur kontrol. Sebagian besar profesi ini memerlukan pelatihan dan pengalaman bertahun-tahun.
Masalahnya, ledakan investasi AI terjadi begitu cepat. Sementara itu, ketersediaan tenaga terampil tidak bisa mengikuti ritme yang sama. Hasilnya, jadwal penyelesaian proyek terancam molor meskipun dana sudah tersedia.
Efek krisis ini sudah mulai terasa di sektor lain. Di Texas, Amerika Serikat, persaingan merekrut tenaga listrik antara proyek data center dan pengembang perumahan kian sengit. Kontraktor perumahan kesulitan bersaing dengan anggaran gaji yang ditawarkan perusahaan teknologi besar, menyebabkan sejumlah proyek perumahan ikut tertunda.
Ini menunjukkan bahwa belanja infrastruktur AI tidak hanya berdampak pada industri teknologi, tetapi juga mulai mengganggu keseimbangan pasar tenaga kerja di ekonomi riil.
Kekhawatiran akan keterlambatan ini mendorong perusahaan teknologi untuk bertindak langsung. Meta, misalnya, telah bermitra dengan perusahaan real estat komersial CBRE untuk meluncurkan inisiatif pelatihan tenaga kerja. Program ini dirancang khusus untuk memperluas jumlah pekerja yang memenuhi syarat di bidang konstruksi dan operasional data center.
Namun, membangun ribuan teknisi berpengalaman tidak bisa dilakukan dalam semalam. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menghasilkan tenaga listrik atau teknisi fiber optik yang benar-benar andal.
Krisis tenaga kerja hanyalah satu dari sekian banyak tantangan non-teknis. Ketersediaan listrik masih menjadi kendala utama. Bahkan, pembangkit nuklir Three Mile Island yang ditutup pada 2019 akan diaktifkan kembali secara eksklusif untuk melayani Microsoft. Di sisi lain, penolakan warga terhadap pembangunan data center baru kian meningkat di berbagai komunitas, seperti di St. Paul, Minnesota, dan Texas, karena kekhawatiran akan konsumsi air, kebisingan, dan dampak lingkungan.
Industri mungkin bisa memesan lebih banyak GPU, membeli lebih banyak lahan, dan menandatangani kontrak listrik raksasa. Tapi untuk menghasilkan ribuan teknisi listrik dan spesialis berpengalaman, tidak ada jalan pintas. Butuh waktu — dan waktu adalah komoditas yang paling langka saat ini.