NATUNA — Aktivitas sehari-hari warga Pulau Laut tak lepas dari laut. Anak-anak bermain, mandi, hingga membantu orang tua melaut. Namun, kemampuan berenang justru belum menjadi keterampilan yang merata di kalangan mereka.
Kepala Kantor SAR Natuna Abdul Rahman mengatakan, pelatihan ini merupakan jawaban atas celah keselamatan itu. "Kemampuan berenang menjadi keterampilan dasar yang wajib dimiliki oleh anak-anak di wilayah pesisir," ujarnya, Rabu.
Unit Siaga SAR Pulau Laut menjadi pelaksana lapangan. Pelatihan digelar tiga kali dalam sepekan, yakni setiap Selasa, Kamis, dan Minggu. Pendaftaran terbuka bagi seluruh pelajar yang berminat tanpa dipungut biaya.
Peserta mendapat materi teori dan praktik. Instruktur dari Kantor SAR Natuna mengajarkan teknik renang gaya bebas dan gaya dada. Tak hanya itu, anak-anak juga dikenalkan dengan alat keselamatan laut serta cara menggunakannya sesuai prosedur.
Pulau Laut masuk dalam kategori wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Program ini merupakan bagian dari arah kebijakan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia di titik-titik strategis perbatasan.
Menurut Abdul Rahman, risiko tenggelam di kalangan anak-anak pesisir cukup tinggi. Minimnya akses pelatihan formal membuat mereka rentan saat berhadapan dengan arus laut. "Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan yang lebih baik," tegasnya.
Pelatihan menyasar anak-anak usia sekolah dasar hingga menengah pertama. Materi dirancang agar mudah dicerna oleh anak-anak yang sebagian besar sudah akrab dengan laut sejak kecil.
Para orang tua di Pulau Laut menyambut baik program ini. Mereka mengaku selama ini hanya mengandalkan pengawasan informal saat anak-anak bermain di pantai. Kini, ada pendekatan terstruktur yang diberikan langsung oleh petugas SAR.
Kantor SAR Natuna berencana memperluas jangkauan program ke pulau-pulau terdepan lainnya di Kepulauan Riau jika respons masyarakat terus positif.