Pemerintah Perketat Impor Etanol, Harga Tetes Tebu Perlahan Pulih dan Petani Mulai Bernapas Lega

Penulis: Muzakir Salim  •  Jumat, 24 Juli 2026 | 22:46:01 WIB
Petani tebu memanen tebu di lahan perkebunan di Malang, Jawa Timur, saat pemerintah mulai memberlakukan pengetatan impor etanol.
ini berbanding terbalik dengan tahun lalu, ketika harga produk sampingan tebu itu anjlok hingga Rp700 per kilogram akibat banjir impor dan kelebihan pasokan global. ISI:

KEPULAUAN RIAU — Presiden Prabowo Subianto menerima laporan langsung dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat menghadiri panen raya di Malang, Jawa Timur, 17 Juli 2026. Isinya: keluhan petani tebu soal harga tetes yang murah mulai mereda. Sejak kebijakan pengetatan impor etanol diterapkan, harga produk sampingan penggilingan tebu itu perlahan membaik.

Sepanjang musim giling tahun lalu, petani menelan pil pahit. Pada awal giling Mei 2025, harga tetes tebu masih bertahan di Rp1.600 per kilogram. Memasuki Oktober hingga November, harga ambruk ke Rp1.000 per kilogram, bahkan menyentuh Rp700 per kilogram. Padahal, tahun sebelumnya harga rata-rata mencapai Rp2.500 hingga Rp3.000 per kilogram.

Anjlok Akibat Dua Tekanan Sekaligus

Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) M Nur Khabsyin menyebut penyebab utama kejatuhan harga adalah impor etanol yang tidak terkendali. "Impor bebas tanpa pembatasan apa pun, termasuk kuota," ujarnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, impor tetes Indonesia pada 2025 tercatat 37,92 ribu ton dan impor etanol sebesar 2.577 ton. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang masing-masing mencapai 50,49 ribu ton dan 10.415 ton. Ironisnya, di saat yang sama, ekspor tetes Indonesia justru melonjak dari 495 ribu ton pada 2024 menjadi 742 ribu ton pada 2025. Ekspor etanol juga naik dari 39,7 ribu ton menjadi 47 ribu ton.

Lantas, mengapa harga justru jeblok? Faktor domestik ternyata bukan satu-satunya biang kerok. Saat itu, negara-negara produsen utama seperti Thailand, India, dan Filipina tengah mengalami panen raya tebu. Produksi tetes melimpah, sementara permintaan dari industri etanol dan pengguna tetes lainnya melambat. Akibatnya, kelebihan pasokan mengalir deras ke pasar regional dan menekan harga global. "Seperti terkena pukulan ganda, baik dari pasar regional maupun domestik, harga tetes pun tersungkur," tulis Khudori, Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO, dalam analisisnya.

Perubahan Arah Kebijakan Impor

Pemerintah akhirnya bergerak. Aturan yang memperketat keran impor etanol diterbitkan. Langkah ini langsung berdampak pada harga di tingkat petani. Meski belum merinci bentuk regulasi yang dimaksud, laporan Mentan kepada Presiden mengonfirmasi bahwa harga tetes kini perlahan pulih.

Kebijakan ini menjadi angin segar bagi petani tebu yang selama ini bergantung pada harga tetes sebagai sumber pendapatan tambahan. Sebelumnya, mereka harus gigit jari saat harga jatuh di bawah biaya produksi. Dengan adanya pembatasan impor, diharapkan stabilitas harga dapat terjaga dan petani tidak lagi menjadi korban dari fluktuasi pasar global yang sulit diprediksi.

Meski demikian, para pegiat pertanian mengingatkan bahwa kebijakan ini baru langkah awal. Mereka mendorong pemerintah untuk memperkuat industri etanol dalam negeri agar serapan tetes domestik lebih optimal. Tanpa itu, petani masih rentan terhadap guncangan pasar di masa depan.

Reporter: Muzakir Salim
Sumber: nasional.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top