BATAM — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memproyeksikan panen perdana budi daya lobster dari benih bening lobster (BBL) di Balai Perikanan Budi Daya Laut (BPBL) Batam, Kepulauan Riau, berlangsung pada September 2026. Lobster yang dibesarkan sejak Oktober tahun lalu di lahan seluas tiga hektare itu kini mencapai bobot rata-rata 150 hingga 200 gram per ekor.
Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP Tb Haeru Rahayu menargetkan produktivitas mencapai 40 kilogram per lubang Keramba Jaring Apung (KJA) berukuran 3 x 3 meter. Kawasan ini dilengkapi 172 unit KJA, terdiri atas 116 unit berukuran besar dan 56 unit berukuran sedang, serta unit nursery dan fasilitas penyimpanan dingin.
"Kami ingin potensi BBL tidak berhenti sebagai benih, tetapi dibesarkan menjadi lobster bernilai ekonomi tinggi di dalam negeri," kata Haeru dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.
Kepulauan Riau dinilai memiliki daya dukung lingkungan yang baik untuk pengembangan budi daya lobster. Wilayah ini dekat dengan pasar dan didukung ketersediaan pakan melalui pengembangan budi daya kekerangan yang melibatkan masyarakat pesisir.
Haeru menjelaskan, modeling budi daya lobster di BPBL Batam dirancang sebagai percontohan penerapan teknologi pembesaran lobster dari BBL. Teknologi pendederan yang diterapkan mampu menghasilkan benih lobster berukuran lima gram untuk memasuki tahap pembesaran.
KKP berharap skema budi daya ini dapat direplikasi di berbagai daerah potensial lainnya di Indonesia. Dengan demikian, nilai tambah dari budi daya lobster tidak lagi dinikmati negara lain, tetapi dapat dimaksimalkan di dalam negeri.
Saat ini, BPBL Batam tengah fokus pada proses pembesaran lobster hingga mencapai ukuran siap panen. Panen pada September mendatang akan menjadi tolok ukur keberhasilan model percontohan ini sebelum diperluas ke daerah lain.