KEPULAUAN RIAU — Berdasarkan data pantauan Kementerian Perdagangan yang dirilis kemarin, harga beras kualitas super turun Rp 200 dari posisi pekan lalu yang berada di Rp 16.000 per kg. Sementara itu, beras premium masih bertengger di Rp 17.500 per kg, dan beras medium di level Rp 14.200 per kg.
Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo, menyebut penurunan harga beras super dipicu oleh masuknya pasokan dari daerah sentra produksi yang mulai memasuki panen raya. "Distribusi dari Jawa Tengah dan Jawa Timur berjalan lancar, sehingga stok di pasar induk mulai terisi," ujarnya dalam keterangan resmi.
Faktor kedua adalah kebijakan operasi pasar (OP) yang digencarkan Perum Bulog di 12 provinsi sejak pekan lalu. Bulog melepas 5.000 ton beras cadangan pemerintah (CBP) ke pasar ritel dan tradisional untuk menekan harga di tingkat konsumen.
Meskipun beras super turun, harga beras premium dan medium justru stagnan. Pengamat pertanian dari IPB University, Dwi Andreas Santosa, menilai hal ini karena segmen premium dan medium memiliki basis konsumen yang lebih rigid. "Permintaan beras premium tidak terlalu elastis terhadap harga. Konsumennya sudah terbiasa dengan kisaran harga tersebut," jelasnya.
Untuk beras medium, pasokan dari Bulog yang didistribusikan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) justru menjaga harga tetap di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 14.800 per kg.
Penurunan tipis harga beras super memberi sedikit ruang bagi konsumen kelas menengah. Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, memperkirakan tren penurunan harga beras akan berlanjut hingga September 2026 seiring puncak panen di beberapa wilayah. "Ini akan membantu menekan inflasi pangan yang selama tiga bulan terakhir berada di atas 4 persen secara tahunan," kata Andry.
Namun demikian, risiko tetap ada. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi kemarau basah di sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan yang dapat mengganggu produktivitas tanaman padi pada Oktober mendatang.
Gabungan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) memperkirakan harga beras super masih akan bergerak di kisaran Rp 15.000–Rp 16.000 per kg hingga akhir Agustus. Ketua Umum Perpadi, Sutarto Alimoeso, mengatakan bahwa ketersediaan stok hingga akhir tahun cukup aman dengan estimasi produksi beras nasional mencapai 31,5 juta ton.
Pemerintah sendiri telah mengalokasikan anggaran Rp 3,5 triliun untuk subsidi beras bagi 22 juta keluarga penerima manfaat (KPM) melalui program bantuan pangan beras 10 kg per bulan hingga Desember 2026. Kebijakan ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen akhir.