KEPULAUAN RIAU — Laga di Chonburi Stadium, kick-off pukul 17.00 WIB, jadi momentum bagi pasukan John Herdman untuk mengamankan poin penuh. Timor Leste datang dengan catatan pahit: dibantai Vietnam tujuh gol dan takluk 0-2 dari Singapura. Dari dua laga itu, pola kerentanan mereka mulai terbaca.
Pertahanan Timor Leste sangat rentan terhadap bola-bola atas. Dua gol Singapura lahir dari umpan silang yang dituntaskan dengan sundulan—Ilhan Fandi dan Song Ui-young sama-sama mencetak gol lewat heading. Vietnam juga berkali-kali merepotkan lewat servis dari sisi sayap.
Peluang ini cocok untuk Mitchell Baker. Pada laga pertama, bek Timnas Indonesia itu sudah mencetak dua gol lewat tandukan. Thom Haye sebagai pemasok umpan matang bisa jadi kunci untuk kembali mengaktifkan ancaman udara.
Garis belakang Timor Leste juga mudah ditembus bola-bola vertikal. Saat dihujani tujuh gol oleh Vietnam, beberapa gol lahir dari umpan terobosan ke ruang kosong di belakang bek. Gol Nguyen Dinh Bac (menit 31) dan Do Hoang Hen (menit 41) jadi contoh nyata.
Karakter pemain Indonesia yang agresif dalam pergerakan tanpa bola sangat cocok mengeksploitasi celah ini. John Herdman bisa memaksimalkan variasi umpan vertikal ke ruang antarlini dan belakang bek, pola yang sudah terbukti merepotkan Timor Leste sebelumnya.
Dari sisi serangan, Timor Leste belum tajam. Lawan Vietnam, tujuh percobaan mereka tak satu pun mengarah ke gawang. Lawan Singapura, hanya satu dari lima tembakan yang tepat sasaran. Akurasi rendah jadi masalah utama transisi cepat mereka.
Namun Rizky Ridho dan lini belakang Indonesia tetap harus waspada. Kecepatan pemain depan Timor Leste masih bisa merepotkan meski penyelesaian akhir mereka sejauh ini buruk. Antisipasi terhadap serangan balik jadi pekerjaan rumah yang tak boleh diabaikan.