KEPULAUAN RIAU — Laporan dari TechRadar yang dirilis pekan ini mengungkap temuan mengejutkan. Dari 32 aplikasi VPN Windows yang diaudit, 18 di antaranya (56%) masih membawa versi OpenVPN yang berusia lebih dari satu tahun. Lebih parah lagi, 14 aplikasi (41%) menggunakan kode yang sudah dua tahun tidak diperbarui, dan 7 aplikasi (22%) bahkan memakai versi yang berumur lebih dari empat tahun.
Empat aplikasi tercatat masih bergantung pada OpenVPN 2.4.7 yang dirilis pada April 2019—sudah lebih dari tujuh tahun lalu. Di sisi lain, layanan premium seperti NordVPN, Windscribe, dan Proton VPN sudah menggunakan rilis OpenVPN terbaru dari April 2026.
Mengapa Versi Lama Berbahaya?
OpenVPN adalah protokol yang mengatur enkripsi dan perutean data antara perangkat pengguna dengan server VPN. Karena dikembangkan sebagai proyek open-source terpisah, pembaruan dari pengembang asli tidak otomatis masuk ke aplikasi VPN komersial. Akibatnya, fitur baru dan perbaikan bug antarmuka bisa hadir, tetapi komponen keamanan inti justru tertinggal.
Marijus Briedis, CTO NordVPN, menjelaskan bahwa OpenVPN secara rutin menambal celah keamanan dan memperkuat kode. “Menjalankan versi yang tertinggal bertahun-tahun bisa membuat pengguna kehilangan komponen keamanan yang ditawarkan versi terbaru,” ujarnya.
Vulnerability yang Sudah Diketahui Justru Lebih Berbahaya
Jason Xu, senior app developer di Windscribe, menyoroti ironi di balik celah keamanan lama. “Penyerang bahkan tidak perlu mencari bug baru; mereka cukup membaca changelog,” katanya. Data menunjukkan OpenVPN mendaftarkan enam celah keamanan (CVE) pada 2025, enam lagi pada 2024, serta satu CVE masing-masing pada 2023 dan 2022. Aplikasi yang menggunakan versi lama kemungkinan besar belum mengadopsi perbaikan dari celah-celah tersebut.
Meski begitu, risiko tidak selalu hitam-putih. Jika versi lama tidak memiliki fitur tertentu yang kemudian menjadi celah di versi baru, aplikasi tersebut mungkin tidak terpengaruh. Briedis menambahkan, keamanan bisa dijaga lewat backported patches atau konfigurasi mitigasi. “Tapi masalahnya muncul ketika tidak ada satu pun langkah itu diterapkan dan pengguna tidak punya visibilitas,” tegasnya.
Biaya Pemeliharaan yang Menggunung
Dr. Peter Membrey, Chief Research Officer di ExpressVPN, memperingatkan bahwa versi OpenVPN yang terlalu tua sulit diintegrasikan dengan sistem operasi dan library kriptografi modern. “Ketertinggalan beberapa tahun bisa menandakan akumulasi utang keamanan, kompatibilitas, dan operasional yang terus membesar,” ujarnya.
Jason Xu menambahkan, “Semakin jauh tertinggal, semakin sulit upgrade berikutnya. Itulah jebakannya. Tidak ada yang sengaja tertinggal lima tahun; mereka hanya terus berkata ‘triwulan depan’.”
Mengapa Provider Butuh Waktu Lama?
Mengadopsi rilis OpenVPN baru bukan perkara sepele. Perlu pengujian kompatibilitas lintas platform, pengecekan regresi, peluncuran bertahap, dan validasi agar tidak ada yang rusak di tumpukan perangkat lunak. Proses ini bisa memakan waktu berbulan-bulan.
NortonVPN, yang saat ini sedang migrasi ke versi OpenVPN terbaru, menegaskan setiap pembaruan harus diuji cermat. Karolis Kaciulis, Lead System Engineer di Surfshark, menganggap keterlambatan 6–18 bulan masih wajar asalkan celah kritis segera ditambal. Sementara itu, StrongVPN menunda pembaruan karena fokus mengembangkan protokol internal, ClearVPN mengandalkan patch buatan sendiri, dan PureVPN bertahan di versi 2.6.12 karena telah membangun teknologi khusus di atasnya.
Apa yang Bisa Dilakukan Pengguna?
Kabar baiknya, banyak provider kini beralih ke protokol yang lebih baru seperti WireGuard yang perawatannya lebih aktif. Proton VPN, misalnya, berencana menghentikan dukungan OpenVPN di aplikasi klien secara bertahap, meski protokol ini tetap dipertahankan di server untuk perangkat lawas. Juru bicara Proton VPN menyebut OpenVPN “lambat dan gemuk” dibandingkan protokol Stealth dan WireGuard milik mereka.
Bagi pengguna yang ingin aman, langkah pertama adalah mengganti protokol di pengaturan aplikasi ke WireGuard jika tersedia. Jika penasaran, cek versi OpenVPN yang digunakan lewat log diagnostik atau catatan rilis resmi. Tanda bahaya utama adalah jika ketergantungan protokol sudah berusia lebih dari 12–18 bulan tanpa alasan keamanan atau kompatibilitas yang terdokumentasi.
Pilihan terakhir: hubungi dukungan pelanggan dan tanyakan jadwal pembaruan protokol. Di dunia VPN—di mana perhatian pada detail keamanan adalah mata uang utama—pertanyaan sederhana layak diajukan: kenapa tidak mendukung opsi yang paling aman dan terbaru?