Jarak Pandang di Batam Turun Jadi 6 Kilometer Imbas Asap Karhutla, Aktivitas Penerbangan Masih Aman

Penulis: Saifuddin Wahid  •  Senin, 24 Agustus 2026 | 21:41:31 WIB
Kabut asap tipis menyelimuti sejumlah kawasan Batam, Kepulauan Riau, pada Senin (24/8) pagi.

Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyelimuti sejumlah wilayah Batam, Kepulauan Riau, hingga menurunkan jarak pandang dari normalnya 10 kilometer menjadi 6 kilometer pada Senin (24/8) pagi. Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Fitri Annisa, menyebut penurunan visibilitas ini dipicu oleh beberapa titik api yang terpantau di wilayah Kepulauan Riau, termasuk Batam. Meski berkurang, kondisi tersebut dinilai masih memungkinkan untuk mendukung aktivitas take off dan landing di Bandara Hang Nadim.

BATAM — Kabut asap tipis mulai menyelimuti sejumlah kawasan di Batam, Kepulauan Riau, pada Senin (24/8) pagi. Berdasarkan pengamatan Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim, jarak pandang horizontal turun hingga 6 kilometer, padahal pada kondisi cerah berawan biasanya mencapai 10 kilometer.

Penurunan visibilitas ini terekam sejak pukul 06.00 WIB. Prakirawan Fitri Annisa mengatakan, asap yang terbawa angin berasal dari sejumlah titik panas atau hotspot yang terpantau di wilayah Kepulauan Riau, termasuk di Kota Batam sendiri.

Kebakaran 35 Hektare di Trans Barelang Jadi Sumber Utama

Salah satu sumber asap terbesar berasal dari kebakaran lahan di Jalan Trans Barelang, Kelurahan Tembesi, Kecamatan Sagulung. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (22/8) itu menghanguskan area perbukitan dan semak belukar seluas kurang lebih 35 hektare.

Fitri menjelaskan, meski lokasi kebakaran berada cukup jauh dari Bandara Hang Nadim, arah angin membuat sebaran asap tidak merata dan bisa mencapai wilayah bandara maupun pusat kota.

“Walaupun titik apinya tidak berada di sekitar wilayah bandara, karena ada pengaruh angin, asap tersebut bisa sampai ke beberapa wilayah lain di Kota Batam, termasuk wilayah bandara,” ujarnya di Batam, Senin.

Penerbangan di Hang Nadim Masih Beroperasi Normal

Kendati jarak pandang berkurang hampir setengahnya, Fitri memastikan kondisi tersebut belum mengganggu operasional penerbangan. Standar minimal untuk proses take off dan landing masih terpenuhi dengan visibilitas 6 kilometer.

“Kalau 6 kilometer itu masih bisa. Biasanya 10 kilometer sangat jelas untuk take off, tetapi 6 kilometer masih bisa. Hanya memang tidak sejelas seperti biasanya,” kata Fitri.

Ia menambahkan, ketebalan asap di tiap titik berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh pergerakan angin dan kondisi atmosfer yang dinamis. Di beberapa tempat, kabut terlihat lebih pekat, sementara di lokasi lain hanya tipis.

BMKG Imbau Warga Tidak Bakar Lahan

BMKG terus memantau perkembangan jarak pandang dan akan melaporkan setiap perubahan signifikan kepada pemangku kepentingan terkait, termasuk otoritas bandara dan pemerintah kota.

Fitri mengimbau masyarakat untuk berperan aktif mencegah meluasnya karhutla. Langkah sederhana seperti tidak membuang puntung rokok sembarangan serta tidak membakar sampah atau lahan sangat menentukan.

“Kalau melihat adanya kebakaran hutan atau lahan di sekitar, masyarakat diharapkan turut berperan aktif dalam membantu penanganan dan melaporkannya kepada pihak terkait,” tutupnya.

Reporter: Saifuddin Wahid
Sumber: m.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top