KEPULAUAN RIAU — Kabar bahagia datang dari pasangan selebritas Australia, Erin Holland dan Ben Cutting. Setelah melalui perjalanan panjang yang penuh lika-liku, mereka akhirnya mengumumkan kelahiran anak pertama pada 18 Agustus lalu. Momen haru itu dibagikan melalui unggahan Instagram yang memperlihatkan keduanya tengah menggendong buah hati, termasuk momen Erin menyusui Si Kecil.
"Tiba-tiba, semuanya jadi masuk akal. Ternyata, sejak awal memang kamulah orangnya," tulis Erin dalam keterangan unggahannya, seperti dikutip dari laman Nine.
Perjalanan menuju kehamilan ini tidaklah singkat. Dalam podcast Something To Talk About pada Mei lalu, Erin membeberkan bahwa ia dan suami telah menjalani 20 siklus IVF, lima kali pengambilan sel telur, dan tujuh kali transfer embrio. Dari semua prosedur tersebut, ia mengalami empat kali keguguran dan satu kali kehamilan ektopik.
Biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Erin mengungkapkan bahwa mereka telah menghabiskan sekitar 150.000 dolar Australia, atau setara dengan Rp1,5 miliar, untuk menjalani berbagai prosedur kesuburan tersebut.
Erin mengaku bahwa bagian tersulit dari infertilitas adalah hilangnya kepolosan saat melihat dua garis pada tes kehamilan. Perasaan bahagia yang dulu muncul perlahan berubah menjadi kewaspadaan setelah berkali-kali mengalami kehilangan.
"Memasuki kali ketiga dan keempat, Anda mulai merasa seolah-olah hasil tes itu sedang mempermainkan Anda," ungkap Erin kepada pembawa acara Sarrah Le Marquand.
Rasa cemas itu terus membayangi sepanjang kehamilannya. Ia merasa hanya menunggu sesuatu yang tidak sesuai harapan terjadi. Namun seiring berjalannya waktu dan kondisi janin yang tetap baik, Erin perlahan mulai menikmati kehamilannya.
Pasangan ini memilih untuk tidak langsung membagikan kabar bahagia tersebut ke publik. Mereka baru mengumumkan kehamilan setelah usia kandungan mencapai 23 minggu, sebuah keputusan yang diambil atas pengalaman pahit kehilangan sebelumnya.
Bagi Erin, tantangan terbesar bukan hanya mendapatkan kehamilan, tetapi juga mempertahankannya. Ia bahkan mengaku belum sempat membayangkan menjadi seorang ibu karena selama ini fokusnya adalah bagaimana bisa hamil dan menjaga kehamilan tetap berjalan.
Setelah membagikan perjuangannya kepada publik, Erin menyadari bahwa banyak orang mengalami perjalanan serupa dalam diam. Ia juga memahami bahwa keberhasilan hamil tidak otomatis mengakhiri semua kekhawatiran.
"Dan hanya karena seseorang mengalami kesulitan untuk hamil, bukan berarti kehamilannya akan berjalan lancar. Itu juga bukan berarti proses persalinannya akan berjalan dengan mudah, atau masa awal kehidupan anaknya akan berjalan tanpa kendala," tuturnya.
Kisah Erin dan Ben menjadi pengingat bahwa perjalanan setiap pasangan dalam mendapatkan keturunan bisa sangat berbeda. Yang terpenting, dukungan satu sama lain dan keteguhan hati untuk terus mencoba menjadi kunci di tengah badai yang harus dilalui. Bagi Bunda yang sedang berjuang, semoga kisah ini bisa menjadi sumber kekuatan dan harapan baru.