KEPULAUAN RIAU — Pelatih Persija Jakarta, Shin Tae-yong, mendapat serangan rasial saat laga melawan Java United di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali. Anaknya, Shin Jae-won, menilai perlakuan itu muncul karena Macan Kemayoran dianggap terlalu bagus.
Persija menang 1-0 atas Java United pada laga tersebut. Gol Arlyansyah Abdulmanan menjadi penentu kemenangan tim asal ibu kota itu.
Insiden bermula dari situasi panas di pinggir lapangan. Direktur Teknik Java United, Achmad Resal Octavian, berteriak ke arah Shin Tae-yong hingga menyebut pelatih asal Korea Selatan itu hanya seorang pendatang.
Terikan Achmad Resal ke Shin Tae-yong langsung menyebar luas di media sosial. Pria yang akrab disapa Resal itu kemudian menonaktifkan akun Instagram miliknya, @octavianresal12.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak Java United maupun Achmad Resal terkait insiden tersebut.
Persija bergerak cepat memberikan dukungan untuk pelatih berusia 57 tahun itu melalui akun Instagram resmi klub. Tim Oranye mengunggah foto Shin Tae-yong dengan caption penuh dukungan.
"Teruslah berjalan, Coach. Ini rumahmu," tulis Persija dalam unggahannya.
Unggahan tersebut mendapat respons besar dari pendukung. Hingga pukul 14.08 WIB, unggahan itu sudah mengumpulkan 115 ribu likes dan 3.910 komentar.
Di kolom komentar, anak Shin Tae-yong, Shin Jae-won, ikut memberikan respons. Menurutnya, serangan rasial yang diterima sang ayah tidak lepas dari performa Persija yang dinilai terlalu bagus.
"Orang-orang iri karena kami terlalu bagus," kata Shin Jae-won.
Komentar Shin Jae-won disukai 4.120 orang dan mendapat 159 balasan. Sejumlah netizen menyatakan dukungan untuk pelatih yang akrab disapa STY itu.
"Tenang, bro. Kami di sini bersama bapakmu," kata akun @rdwnfauzi____.
"Tenang saja, Won. Papamu berada di rumah yang tepat," tulis akun @fajar_n_hakim.
Kasus ini menambah daftar panjang persoalan rasialisme di sepak bola Indonesia. Dukungan bertubi-tubi untuk Shin Tae-yong menunjukkan basis suporter Persija menolak segala bentuk perlakuan diskriminatif terhadap pelatihnya.
Sejumlah pengamat sepak bola nasional mendesak operator kompetisi dan PSSI memberi perhatian serius pada insiden di pinggir lapangan tersebut. Sanksi tegas dinilai perlu agar kejadian serupa tidak terulang di pertandingan lain.