KEPULAUAN RIAU — Harga Bitcoin diperdagangkan di kisaran 82.400 dolar AS pada Selasa (13/10) pagi, turun 1,45% dalam 24 jam dan 3,73% dalam sepekan. Posisi itu sekitar 34,7% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa 126.198,07 dolar AS yang tercatat 6 Oktober 2025. Pelemahan terjadi ketika dolar AS menguat mendekati level tertinggi 18 bulan, menekan selera risiko investor terhadap aset kripto.
Data CoinMarketCap yang dikutip Bittime menunjukkan tekanan jual berlanjut di pasar aset digital. Platform perdagangan kripto Bittime menyoroti tiga faktor yang saling berkaitan dan perlu dicermati investor sebelum mengambil keputusan: perubahan ekspektasi suku bunga, penguatan dolar AS, dan ketidakpastian geopolitik.
Reuters melaporkan pada 12 Oktober 2026 bahwa dolar AS menguat mendekati level tertinggi dalam 18 bulan. Penguatan didorong permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman dan perhatian investor terhadap data inflasi Amerika Serikat. Ketika dolar menguat, minat terhadap aset berisiko termasuk Bitcoin cenderung tertekan.
Direktur Operasional Bittime Ryan Lymn menegaskan pentingnya pemahaman menyeluruh atas dinamika pasar sebelum berinvestasi.
"Perubahan ekspektasi suku bunga, penguatan dolar AS, dan ketidakpastian geopolitik dapat memengaruhi selera risiko investor. Karena itu, penting bagi pelaku pasar untuk memahami bagaimana berbagai faktor tersebut saling berkaitan sebelum mengambil keputusan," ujar Ryan Lymn.
Bittime mengidentifikasi sejumlah variabel yang saling terkait dalam menentukan arah harga Bitcoin dalam jangka pendek:
Bitcoin kini berada sekitar 34,7% di bawah rekor tertinggi 126.198,07 dolar AS yang tercatat pada 6 Oktober 2025. Koreksi berlanjut dengan penurunan 3,73% dalam sepekan terakhir, memperlihatkan tekanan jual yang belum mereda.
Bagi investor ritel Indonesia yang memegang aset kripto, kondisi ini menuntut kehati-hatian. Bittime mengingatkan bahwa instrumen aset digital memiliki volatilitas tinggi dan risiko yang perlu dipahami sebelum bertransaksi. Platform tersebut menyediakan layanan Spot, Staking, dan Futures bagi pengguna yang ingin tetap aktif di pasar.
Pergerakan dolar AS dan data inflasi Amerika Serikat menjadi dua variabel utama yang akan menentukan arah Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan. Jika dolar terus menguat, tekanan terhadap aset berisiko diperkirakan berlanjut. Sebaliknya, ekspektasi pemangkasan suku bunga dapat menjadi katalis pemulihan.
Investor disarankan memantau arus dana produk investasi kripto dan perkembangan geopolitik global sebagai indikator awal perubahan sentimen pasar.