BATAM — Bursa Efek Indonesia mencatat penambahan hampir 100 ribu investor baru di Kepulauan Riau sepanjang Januari hingga September 2026. Angka itu menempatkan total investor pasar modal di wilayah ini pada 297.128 orang per akhir September, naik dari posisi akhir Januari tahun yang sama.
Novita menyampaikan data tersebut di Batam, Jumat, dengan menekankan bahwa pertumbuhan investor Kepri mengikuti irama nasional. "Kepri juga tidak ketinggalan untuk mengejar pertumbuhan investor seperti skala nasional. Ini menjadi hal yang menggembirakan bagi kami insan pasar modal," ujarnya.
Secara nasional, jumlah investor pasar modal mencapai 31.021.366 orang pada akhir September 2026, meningkat sekitar 52,62 persen dibanding posisi akhir Januari. Jumlah itu bahkan telah menembus 32 juta orang pada Oktober 2026.
Kenaikan jumlah investor di Kepri maupun nasional tidak serta-merta mencerminkan kondisi pasar saham yang sedang menguat. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan tetap dipengaruhi sentimen global, kebijakan suku bunga internasional, hingga situasi sosial dan politik dalam negeri.
Novita mencontohkan pernyataan penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International yang sempat memicu kekhawatiran investor dan memengaruhi pergerakan IHSG. Pada hari pertama pernyataan itu keluar, sebagian investor panik.
"Pada hari pertama saat MSCI mengeluarkan pernyataan, memang ada kepanikan dari investor. Tetapi, penurunan IHSG bukan hanya disebabkan hal itu, melainkan juga faktor-faktor lain, seperti suku bunga internasional dan kondisi sosial politik," katanya.
Fluktuasi pasar, menurut dia, menjadi pengingat agar investor tidak mengambil keputusan berdasarkan sentimen sesaat. Pemahaman terhadap fundamental dan kinerja perusahaan perlu menjadi pertimbangan sebelum membeli atau menjual saham.
Kondisi pasar yang bergejolak dapat dibaca berbeda oleh investor berpengalaman. Novita menyebut gejolak justru bisa menjadi kesempatan mencermati saham perusahaan dengan fundamental dan kinerja yang baik.
"Bagi investor yang sudah berpengalaman di pasar modal, kondisi seperti ini justru bisa menjadi momentum untuk melihat saham-saham yang memiliki fundamental dan kinerja perusahaan yang baik," ujarnya.
BEI Kepri memperluas edukasi pasar modal melalui sinergi dengan media massa. Langkah itu diharapkan tidak hanya menambah minat masyarakat berinvestasi, tetapi juga memperkuat literasi risiko dan kebiasaan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang memadai.
Novita mengapresiasi dukungan media dalam menyampaikan informasi dan meningkatkan pemahaman masyarakat soal pasar modal Indonesia. "Kami sangat mengapresiasi kehadiran rekan-rekan media yang selalu mendukung kami dalam menyampaikan informasi dan meliterasi masyarakat di Kepulauan Riau terkait pasar modal Indonesia," katanya.
Sebagai bagian dari perluasan edukasi itu, BEI dijadwalkan menggelar Capital Market Summit & Expo 2026 pada 3–5 November mendatang. Dengan jumlah investor yang terus bertambah, penguatan literasi dinilai penting agar masyarakat tidak hanya tertarik masuk pasar modal, tetapi juga mampu menilai risiko dan kinerja perusahaan di tengah perubahan kondisi pasar.