Bulog Mulai Serap Gabah Petani Desa Srengseng, Harga di Tingkat Petani Membaik

Penulis: Saifuddin Wahid  •  Senin, 17 Agustus 2026 | 11:32:31 WIB
Petani menunjukkan gabah kering panen yang siap diserap Bulog di Desa Srengseng, Grobogan, Jawa Tengah.

KEPULAUAN RIAU — Gunungan gabah terhampar di atas terpal plastik yang memantulkan cahaya keemasan. Gabah itu baru saja selesai dipanen di areal sawah yang digarap seorang petani di Desa Srengseng, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Pemandangan ini bukan sekadar musim panen biasa, melainkan awal dari rantai distribusi yang kini melibatkan Bulog sebagai penyerap utama.

Petani Tak Lagi Khawatir Harga Jatuh

Kehadiran Bulog di tengah musim panen kali ini mengubah cara petani memasarkan hasilnya. Sebelumnya, petani kerap bergantung pada tengkulak yang menentukan harga sepihak. Kini, petani memiliki alternatif untuk menjual gabahnya langsung ke Bulog dengan harga yang lebih terukur.

Kondisi ini membuat petani tidak perlu buru-buru menjual hasil panennya. Mereka bisa menjemur gabah hingga benar-benar kering untuk mendapatkan kualitas terbaik. Hal ini berdampak langsung pada pendapatan, karena gabah kering dengan kadar air sesuai standar dihargai lebih tinggi.

Gudang Bulog Kembali Terisi

Di sisi lain, penyerapan ini membuat gudang-gudang Bulog di wilayah tersebut kembali terisi. Stok yang masuk berasal dari gabah kering panen yang telah melalui proses sortir kualitas. Semakin banyak serapan, semakin besar pula cadangan beras pemerintah yang tersimpan.

Pasokan yang melimpah ini menjadi indikator bahwa program serapan gabah berjalan efektif. Bulog hadir sebagai pembeli dengan harga yang dianggap wajar oleh petani, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Aktivitas bongkar muat gabah di gudang pun terpantau ramai dalam beberapa pekan terakhir.

Dampak ke Harga dan Stok Nasional

Penyerapan hasil panen oleh Bulog memiliki efek berantai. Pertama, menjaga daya beli petani tetap stabil. Kedua, memastikan ketersediaan beras di pasar tetap terjaga. Ketiga, menjadi instrumen pemerintah dalam mengendalikan inflasi pangan.

Ketika harga gabah di tingkat petani turun drastis, daya beli masyarakat perdesaan melemah. Dengan adanya pembelian dari Bulog, harga di tingkat petani tidak jatuh terlalu dalam. Hal ini sekaligus mencegah melambungnya harga beras di tingkat konsumen akibat spekulasi pasar.

Bagi pemerintah, stok yang tersimpan di gudang Bulog adalah amunisi penting. Saat terjadi gejolak harga atau bencana alam, cadangan ini bisa langsung didistribusikan ke daerah yang membutuhkan. Dengan gudang yang terisi, kesiapan pemerintah dalam menghadapi situasi darurat pangan menjadi lebih solid.

Musim panen tahun ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara petani dan Bulog mampu menciptakan ekosistem pangan yang lebih sehat. Petani mendapatkan kepastian harga, Bulog mendapatkan stok, dan masyarakat luas mendapatkan jaminan pasokan beras yang stabil.

Reporter: Saifuddin Wahid
Sumber: ekonomi.republika.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top