BATAM — Tingkat muka air (TMA) di sejumlah waduk di Batam menunjukkan tren penurunan yang mengkhawatirkan memasuki puncak musim kemarau 2026. Laporan keamanan air waduk BP Batam per 27 April 2026 menyebutkan hampir seluruh waduk mengalami penyusutan debit harian.
Waduk Nongsa menjadi titik paling rentan. Waduk ini kehilangan sekitar 4 sentimeter air per hari. Tanpa tambahan pasokan dari hujan atau teknologi modifikasi cuaca, cadangan air di waduk tersebut diperkirakan hanya cukup untuk 34 hari ke depan.
Waduk Duriangkang Paling Stabil, Tapi Jadi Andalan Utama
Kondisi berbeda terjadi di Waduk Duriangkang, sumber utama air bersih Batam. Waduk ini hanya mengalami penurunan sekitar 1 sentimeter per hari dan dinilai paling stabil. Namun, BP Batam tetap meminta kewaspadaan karena waduk ini memasok hampir setengah kebutuhan air bersih warga dan kawasan industri.
Selain Nongsa, beberapa waduk lain juga menunjukkan penurunan signifikan. Waduk Sei Harapan, Seiladi, dan Muka Kuning masing-masing kehilangan sekitar 3 sentimeter per hari. Waduk Sei Harapan diperkirakan bertahan 62 hari tanpa hujan, sementara Waduk Muka Kuning masih bisa bertahan hingga 138 hari. Sementara itu, Waduk Tembesi mencatat penurunan 2 sentimeter per hari.
El Niño Lemah dan Curah Hujan Rendah Jadi Pemicu
Penurunan ini dipicu oleh fenomena El Niño lemah yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026. Periode Juli hingga September diprediksi menjadi fase paling kering. Curah hujan di wilayah tangkapan waduk sejak awal tahun tercatat sangat rendah, terutama di kawasan Seiladi dan Nongsa.
Menurut simulasi BP Batam, hujan ringan belum cukup berdampak signifikan terhadap kenaikan permukaan air waduk. Kenaikan debit baru terasa jika terjadi hujan dengan intensitas lebih dari 100 milimeter per hari.
BP Batam Mulai Jalankan Operasi Hujan Buatan
Untuk mengantisipasi krisis, BP Batam telah menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak pertengahan Mei 2026. Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan operasi ini perlu dimulai sejak Mei karena kondisi awan masih memungkinkan untuk penyemaian.
"BMKG memperkirakan musim kemarau panjang terjadi pada Juni hingga Agustus 2026, sehingga langkah antisipasi perlu dilakukan lebih awal," ujar Denny.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Ramlan Djambak, menjelaskan penyemaian awan dilakukan menggunakan natrium klorida (NaCl) untuk mempercepat proses kondensasi hingga turun hujan di wilayah tangkapan waduk. Operasi ini direncanakan berlangsung sekitar 20 hari.
Namun, pelaksanaan OMC sempat dihentikan sementara pada 20 Mei 2026 akibat kendala distribusi bahan dari BP Batam. Selain faktor teknis, setiap penerbangan penyemaian awan juga wajib mendapat izin dari Air Traffic Control (ATC) dan AirNav Indonesia karena menyesuaikan kepadatan lalu lintas penerbangan internasional.
Tekanan Kebutuhan Air Terus Meningkat
Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya kebutuhan air bersih seiring pertumbuhan penduduk, investasi, dan ekspansi industri di Batam. Pasokan air yang masuk ke waduk saat ini dinilai sudah tidak mampu lagi mengimbangi produksi dan distribusi air baku harian. BP Batam mengimbau masyarakat dan pelaku industri untuk mulai menghemat penggunaan air.