KEPULAUAN RIAU — Pertamina resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter. Keputusan ini berlaku setelah perusahaan dinilai tidak lagi sanggup menahan selisih harga yang terus membengkak akibat fluktuasi kurs rupiah dan harga minyak global.
Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Hendry Cahyono mengatakan, langkah ini sebenarnya sudah lama terprediksi. Selama ini Pertamina menggunakan dana talangan dari kas internal untuk menutup selisih antara harga jual dan harga keekonomian Pertamax. Namun instrumen itu hanya bersifat sementara.
“Dana talangan Pertamina ini juga terbatas. Karena Pertamax ini kan BBM nonsubsidi. Tidak ada subsidi APBN di dalamnya. Jadi memang murni mengikuti harga pasar,” ujar Hendry, Jumat (12/6/2026).
Risiko bagi Setoran Dividen dan Persepsi Investor
Hendry menjelaskan, jika Pertamina terus menanggung selisih harga tanpa penyesuaian, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh laporan keuangan internal. Setoran dividen kepada negara ikut terancam. Lebih dari itu, kepercayaan investor dan lembaga pemeringkat terhadap kinerja keuangan perusahaan bisa terganggu.
“Investor melihat rasio keuntungan dan kinerja keuangan. Kalau terus merugi, siapa yang mau berinvestasi?” katanya.
Dengan kata lain, kenaikan harga Pertamax kali ini bukan sekadar soal menyesuaikan harga jual. Ini tentang menjaga kesehatan fundamental bisnis Pertamina di tengah tekanan eksternal yang terus meningkat.
Tekanan dari Kurs Rupiah dan Harga Minyak
Dua faktor utama menjadi biang kerok: pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah dunia. Keduanya membuat biaya impor dan produksi BBM nonsubsidi membengkak. Ruang bagi Pertamina untuk terus menahan harga semakin sempit.
“Akhirnya setelah beberapa waktu ditahan, BBM nonsubsidi tidak bisa lagi ditahan sehingga dilepas mengikuti mekanisme pasar. Karena itu kenaikan yang sekarang terjadi cukup tinggi. Mau tidak mau Pertamax harus naik,” ujar Hendry.
Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter ini diharapkan menjadi titik keseimbangan baru antara daya beli masyarakat dan keberlanjutan bisnis Pertamina. Ke depan, pergerakan harga BBM nonsubsidi akan sepenuhnya bergantung pada dinamika pasar global dan nilai tukar rupiah.