KEPULAUAN RIAU — Getaran keras dirasakan warga di Kota Poso dan Kecamatan Sausu pada pukul 09.12 WIB. Berdasarkan laporan BMKG, intensitas guncangan mencapai skala V–VI MMI, cukup kuat untuk mengguncang perabot berat dan menyebabkan retakan ringan pada sejumlah bangunan. Tim BPBD langsung diterjunkan ke lapangan untuk melakukan pendataan kerusakan di permukiman dan fasilitas umum.
Mekanisme Sesar yang Tidak Memicu Tsunami
Kepala Bidang Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan faktor utama yang membuat gempa ini aman dari ancaman gelombang tinggi. "Berdasarkan lokasi episenter, kedalaman, dan pola pergerakan tanah yang terekam, kami memastikan gempa ini berasal dari aktivitas Sesar Sausu. Mekanismenya berupa pergeseran mendatar (strike-slip), sehingga tidak memicu perpindahan massa air laut yang dapat menimbulkan tsunami," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (16/6).
Dengan kedalaman hiposenter hanya 12 kilometer, gempa ini masuk kategori dangkal. Meski guncangan di permukaan terasa kuat, parameter gempa menurut pemodelan teknis BMKG tidak memenuhi ambang batas pembentukan tsunami. Wilayah pesisir Sulawesi Tengah dan sekitarnya dinyatakan aman.
Dua Puluh Gempa Susulan dan Imbauan Kewaspadaan
Aktivitas seismik di kawasan tersebut belum mereda. Hingga pukul 12.00 WIB, BMKG mencatat 20 kali gempa susulan dengan magnitudo terkuat mencapai 5,2. Daryono mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan rangkaian guncangan ini. "Meski magnitudo umumnya lebih kecil dari gempa utama, guncangan berulang bisa memperburuk kondisi bangunan yang sudah retak," katanya.
Warga di sekitar Poso dan Sausu diimbau untuk menjauhi bangunan yang rusak dan menghindari tebing curam yang rawan longsor pascagempa. BMKG menyediakan pembaruan real-time melalui akun @InfoBMKG dan aplikasi InfoBMKG. Masyarakat diminta memastikan setiap informasi yang beredar bersumber dari kanal resmi.
Catatan Seismik di Sulawesi Tengah
Wilayah Sulawesi Tengah berada di jalur seismik aktif. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ancaman gempa di kawasan itu bersifat permanen. Pada 2018, gempa besar yang dipicu Sesar Palu-Koro menewaskan lebih dari 4.000 orang akibat tsunami dan likuefaksi di Palu. Kini, pergerakan Sesar Sausu kembali menguji kesiapsiagaan infrastruktur dan masyarakat setempat.