Pencarian

BYD dan Chery Kena Dampak, Malaysia Perketat Impor Mobil Listrik Murah China Mulai Juli 2026

Senin, 06 Juli 2026 • 14:56:01 WIB
BYD dan Chery Kena Dampak, Malaysia Perketat Impor Mobil Listrik Murah China Mulai Juli 2026
Malaysia perketat syarat impor mobil listrik CBU mulai Juli 2026 dengan nilai CIF minimal 200 ribu ringgit dan tenaga 180 kW.

KEPULAUAN RIAU — Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia (MITI) mengumumkan syarat baru bagi mobil listrik utuh atau completely built-up (CBU) yang masuk ke negaranya. Mulai 1 Juli 2026, setiap unit harus memiliki nilai Cost, Insurance, and Freight (CIF) minimal 200 ribu ringgit atau sekitar Rp 880 juta, serta tenaga minimal 180 kW. Nilai CIF adalah harga kendaraan saat tiba di pelabuhan, belum termasuk bea masuk dan pajak. Artinya, harga jual di diler bakal jauh lebih mahal dari angka tersebut.

Dominasi BYD dan Chery Terpangkas, Tujuh Model BYD Tak Lolos Syarat

Kebijakan ini menjadi pukulan telak bagi pabrikan China yang menguasai hampir 60 persen pasar kendaraan energi baru Malaysia sepanjang 2025, berdasarkan data Departemen Transportasi Jalan Malaysia (JPJ). Dari tujuh model BYD yang dijual di Malaysia, seluruhnya memiliki harga awal di bawah 200 ribu ringgit. Beberapa varian dasar seperti BYD Dolphin dan Atto 3 juga memiliki tenaga di bawah 180 kW.

Nasib serupa dialami Zeekr 7X dan Omoda E5 milik Chery. Keduanya tak memenuhi syarat tenaga maupun harga CIF minimum. Alhasil, model-model yang selama ini jadi tulang punggung penjualan mobil listrik murah di Malaysia terpaksa berhenti diimpor dalam bentuk utuh.

Jalan Berliku Produksi Lokal: BYD Terhambat Syarat Ekspor 80 Persen

Malaysia membuka celah bagi produsen untuk merakit mobil secara lokal atau CKD. Namun, aturan untuk proyek manufaktur baru yang disetujui sejak September 2025 juga tak kalah ketat. Harga kendaraan minimal 100 ribu ringgit (Rp 440 juta), proses pengelasan, pengecatan, dan perakitan akhir wajib dilakukan di Malaysia. Yang paling berat: produsen wajib mengekspor minimal 80 persen dari total produksi, sementara penjualan domestik dibatasi hanya 20 persen.

Rencana pembangunan pabrik CKD BYD di Tanjung Malim, Perak, seluas 600 ribu meter persegi, kini dilaporkan mengalami hambatan. Analis menilai syarat ekspor 80 persen sulit dipenuhi BYD karena mereka sudah memiliki basis produksi besar di Thailand, Indonesia, dan China. Pabrik baru di Malaysia akan kesulitan bersaing untuk pasar ekspor.

Celah untuk Leapmotor dan Xpeng Lewat Pabrik Eksisting

Beberapa merek China tetap lolos dengan memanfaatkan fasilitas manufaktur yang sudah berjalan. Pada Juni 2026, Leapmotor mulai merakit model C10 di pabrik Stellantis di Gurun, Kedah. Sementara itu, Xpeng memulai produksi G6 versi setir kanan bersama produsen lokal EPMB.

Karena menggunakan fasilitas yang telah beroperasi, kedua proyek ini tidak terkena kewajiban ekspor 80 persen yang berlaku untuk proyek manufaktur baru. Strategi ini menjadi jalan pintas bagi merek China yang ingin tetap bermain di pasar Malaysia tanpa harus membangun pabrik dari nol.

Bagikan
Sumber: oto.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks