KEPULAUAN RIAU — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai impor Indonesia pada Mei 2026 mencapai US$ 24,81 miliar. Angka ini melesat 22,16% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan kenaikan terjadi di semua lini, baik migas maupun nonmigas.
"Impor migas tercatat sebesar US$ 4,51 miliar atau naik 70,78% secara tahunan. Sementara impor nonmigas meningkat 14,89% menjadi US$ 20,30 miliar," kata Ateng dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Rabu (1/7).
Bahan Baku Jadi Motor Utama Kenaikan Impor
Kenaikan impor Mei 2026 terutama ditopang oleh barang bahan baku dan penolong. Nilainya mencapai US$ 17,58 miliar, melonjak 25,17% dibandingkan Mei 2025. Segmen ini memberikan andil terbesar terhadap total kenaikan impor.
Komoditas yang paling banyak diborong adalah bahan bakar mineral, garam, belerang, batu dan semen, serta serealia. Artinya, pabrik-pabrik di dalam negeri tengah gencar menambah stok material produksi. Impor barang konsumsi juga ikut naik 21,99% menjadi US$ 2,23 miliar, sementara barang modal meningkat 12,70% menjadi US$ 5 miliar.
China dan Australia Pemasok Utama, Impor dari Jepang Justru Turun
Dari sisi negara asal, kenaikan impor terutama berasal dari Tiongkok, Australia, kawasan ASEAN, dan Uni Eropa. Menariknya, impor dari Jepang justru mengalami penurunan. Lonjakan impor migas yang mencapai 70,78% menunjukkan kebutuhan energi untuk operasional industri dan pembangkit listrik masih sangat tinggi, termasuk pasokan untuk kilang Pertamina.
Secara kumulatif, nilai impor Indonesia sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai US$ 111,33 miliar, meningkat 15,24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Impor migas kumulatif tercatat US$ 17,45 miliar (naik 27,89%), sedangkan nonmigas mencapai US$ 93,88 miliar (naik 13,16%).
Kenaikan impor bahan baku yang konsisten ini menjadi sinyal bahwa aktivitas manufaktur dalam negeri masih bergairah. Namun, di sisi lain, defisit neraca dagang berpotensi melebar jika ekspor tidak mampu mengimbangi laju impor yang terus meroket. Pemerintah dihadapkan pada tantangan menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri dan stabilitas nilai tukar rupiah.