KEPULAUAN RIAU — Stadion tertutup di Atlanta menjadi saksi pertandingan yang berjalan aneh. Pelatih Afrika Selatan, Hugo Broos, bahkan menyebut venue tersebut "bukan stadion sepak bola" karena atapnya yang tertutup, sementara hanya rumput di lapangan yang layak disebut sepak bola. "Semua yang lain tidak," tegas Broos usai laga.
Ceko tidak butuh waktu lama untuk unggul. Hanya berselang lima menit, skema lemparan ke dalam berbuah gol. Adam Hlozek lolos dari kawalan dan mengirim umpan silang yang kemudian diselesaikan Michal Sadilek dengan satu sentuhan. Khuliso Mudau, bek Afrika Selatan, sempat ragu apakah harus maju atau mundur, dan keputusan terlambat itu membuatnya mati langkah.
Afrika Selatan nyaris tidak berdaya di 10 menit pertama. Ceko melepaskan empat tembakan, sementara Afrika Selatan baru bisa mengancam lewat sepakan Oswin Appollis yang hanya mengenai sisi jaring. Teboho Mokoena sempat melepaskan tembakan keras dari jarak 25 yard yang melambung tinggi, sementara kiper Ceko Matej Kovar nyaris blunder saat menjatuhkan bola di kaki Thapelo Maseko.
Memasuki babak kedua, Ceko kembali mencoba mendominasi. Sundulan Patrik Schick masih bisa diantisipasi kiper Ronwen Williams. Namun permainan perlahan berubah menjadi hati-hati. Satu momen aneh terjadi ketika wasit Tori Penso menghentikan laga untuk sesi minum yang disambut cemoohan penonton—padahal suhu di stadion tidak terlalu panas, dan ritme pertandingan justru terputus.
Broos mengkritik kebijakan itu. "Minum sangat berguna saat cuaca panas. Dalam kasus lain, ritme permainan hilang," ujarnya. Pelatih asal Belgia itu juga melontarkan sindiran tajam terhadap gaya bermain Ceko. "Ceko tidak suka bermain sepak bola atau permainan umpan. Mereka sangat lurus: semua pemainnya setinggi 1 meter 90 atau lebih. Jika Anda suka sepak bola, Anda lebih suka permainan yang kami mainkan hari ini daripada yang mereka mainkan," sindir Broos.
Afrika Selatan butuh keajaiban, dan mereka mendapatkannya dalam bentuk hadiah. Tembakan Maseko dari luar kotak penalti mengenai tangan Pavel Sulc yang tidak sempat ditarik. Wasit Penso tanpa ragu menunjuk titik putih. "Kami kurang beruntung, tapi saya rasa itu bisa disebut handball," kata pelatih Ceko Miroslav Koubek dengan nada pasrah.
Mokoena, yang air matanya mengalir saat lagu kebangsaan berkumandang, maju sebagai algojo. Tendangannya menghujam gawang, meledakkan kegembiraan dan menghidupkan kembali harapan Afrika Selatan. Kartu kuning kedua yang ia terima di pertandingan ini membuatnya harus absen di laga penentu melawan Korea Selatan.
Hasil imbang ini membuat Grup B semakin terbuka. Afrika Selatan akan melawan Korea Selatan di pertandingan terakhir, sementara Ceko berhadapan dengan Meksiko. Kedua tim masih punya peluang, namun dari performa yang ditunjukkan, tidak ada yang bisa menjamin siapa yang akan lolos. "Kami lebih dekat dengan kemenangan," balas Koubek menanggapi kritik Broos. Namun statistik berbicara lain: hanya ada sedikit peluang bersih di 80 menit pertama, sebelum 10 menit terakhir yang dramatis mengubah segalanya.