TANJUNGPINANG — Desmayeti Arfa, pengamat sosial dari Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Stisipol) Raja Haji Tanjungpinang, menyoroti akar persoalan pengangguran di Provinsi Kepulauan Riau. Menurut dia, persoalan utama bukan terletak pada ketersediaan lowongan, melainkan pada kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dan kebutuhan pelaku usaha.
Dunia industri di Kepri disebut telah membuka sejumlah formasi kerja. Namun, tuntutan kualifikasi yang ditetapkan perusahaan membuat banyak pencari kerja belum bisa mengisi posisi yang tersedia.
Desmayeti menegaskan bahwa peluang kerja sebenarnya sudah tersedia. Persoalannya, apakah pencari kerja memiliki keterampilan yang sesuai dengan standar yang diminta industri.
"Peluang kerja sudah dibuka apakah pencari kerja sudah memiliki kompetensi disitu atau tidak. Karena masih ada kualifikasi yang dituntut," ujar Desmayeti Arfa, Senin, 19 September 2026.
Pernyataan itu menegaskan bahwa pengangguran di Kepri lebih bersifat struktural-kompetitif, bukan semata soal minimnya lapangan pekerjaan. Selama kualifikasi tidak terpenuhi, lowongan yang tersedia tetap tidak terisi.
Selain soal kompetensi, Desmayeti menyoroti pola pikir sebagian masyarakat yang lebih memilih pekerjaan di balik meja dibandingkan kerja lapangan. Kecenderungan ini dinilai turut memperlambat pengentasan pengangguran dari sisi sosiologis.
Pilihan pekerjaan yang terbatas pada jenis tertentu membuat peluang di sektor lain, terutama yang menuntut kerja lapangan, kurang tergarap. Padahal, sektor-sektor itu kerap membuka formasi yang cukup banyak.
Desmayeti mendorong pemerintah daerah untuk memetakan lulusan SMA dan sarjana di Kepri yang belum tertampung di dunia kerja. Pendataan itu menjadi dasar penyusunan program pelatihan yang tepat sasaran.
Selain pendataan, ia menyarankan penyediaan fasilitas lembaga pelatihan atau sekolah yang jurusannya disesuaikan dengan kebutuhan industri di Kepri. Langkah ini dinilai lebih efektif ketimbang sekadar menambah kuota lowongan.
"Masyarakat dan pemerintah juga diharapkan dapat membaca dengan baik peluang dan kebutuhan kerja saat ini. Supaya saat pencari kerja ingin mengisi lapangan pekerjaan, mereka sudah memenuhi kualifikasi," katanya.
Desmayeti menekankan pentingnya keselarasan antara pencari kerja dan pemerintah dalam membaca kebutuhan pasar. Pencari kerja perlu memahami kualifikasi yang diminta, sementara pemerintah menyiapkan jalur pelatihan agar keterampilan itu terpenuhi.
Dengan begitu, saat formasi dibuka, pelamar dari Kepri sendiri yang bisa mengisinya. Upaya ini menyasar akar masalah, bukan hanya mengejar angka penyerapan tenaga kerja jangka pendek.