KEPULAUAN RIAU — SD Negeri Purwosari di Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, memanfaatkan lebih dari 500 galon plastik bekas air minum sebagai pot sayuran di halaman sekolah. Kebun sekolah ini menjadi sarana edukasi ketahanan pangan yang melibatkan siswa kelas 1 hingga kelas 6 dalam seluruh proses pertanian. Hasil panennya bahkan dipasarkan ke warung-warung sekitar.
Paragraf pembuka: Program kebun sekolah di SD Negeri Purwosari berangkat dari keterbatasan lahan. Halaman sekolah yang tidak luas dimanfaatkan dengan menata ratusan galon bekas berjajar sebagai wadah tanam. Kangkung, tomat, sawi, cabai, dan mentimun tumbuh dari galon-galon yang sebelumnya menjadi limbah rumah tangga.
Siswa kelas 1 hingga kelas 6 terlibat langsung dalam setiap tahap budidaya. Mereka memulai dari pembibitan, penanaman, perawatan, hingga panen. Setiap kelas mendapat tanggung jawab mengelola tanaman masing-masing dengan pendampingan guru.
Hasil panen bisa mencapai sekitar lima kilogram setiap dua hari. Sayuran yang dipanen tidak hanya dikonsumsi sendiri, tetapi juga dijual oleh para siswa. Sejumlah warung di sekitar sekolah rutin memesan hasil kebun tersebut.
Selain galon bekas sebagai pot, sekolah memanfaatkan daun kering sebagai media tanam. Sisa makanan dan limbah organik diolah menjadi kompos. Dalam sepekan, pengolahan limbah organik menghasilkan satu ember kompos cair.
Karena semua bahan diambil dari lingkungan sekitar, biaya operasional kebun sangat minim. Pendekatan ini sekaligus mengajarkan siswa bahwa bertani tidak selalu butuh modal besar atau lahan luas.
Edukasi ketahanan pangan di SD Negeri Purwosari mulai dikembangkan pada 2026. Sekolah menerapkan program diversifikasi kurikulum yang mengintegrasikan pertanian, peternakan, dan perikanan.
Hasil penjualan sayuran dikembalikan untuk mendukung kebutuhan siswa dan kegiatan pembelajaran. Dengan begitu, kebun sekolah berfungsi ganda: sebagai sarana belajar sekaligus sumber dana kecil yang berputar untuk kepentingan siswa.
Penutup: Langkah SD Negeri Purwosari menunjukkan ketahanan pangan bisa diajarkan dari halaman sekolah yang sempit. Yang dibutuhkan bukan lahan luas, melainkan kemauan memanfaatkan bahan yang ada di sekitar.