NATUNA — Aryandi menilai persoalan tersebut perlu disikapi dengan mengedepankan nilai-nilai adat dan budaya Melayu, terutama soal tanggung jawab pemimpin menjaga perkataan dan menghormati orang lain. Ia mengingatkan salah satu tunjuk ajar Melayu soal keberanian mengakui kekeliruan lisan.
"Tersesat di ujung jalan, balik ke pangkal jalan, tersalah cakap, cepat bertobat," kata Aryandi, mengutip petuah Melayu.
Menurutnya, ungkapan itu mengandung pesan bahwa seseorang yang keliru berbicara harus berani mengakui dan memperbaikinya. Aryandi meminta Cen Sui Lan memberikan klarifikasi apabila ucapan yang dipersoalkan benar disampaikan di hadapan umum dan membuat wartawan Koran Perbatasan merasa dipermalukan.
Marwah Pemimpin Diuji lewat Tutur Kata
Dalam pandangan budaya Melayu, perkataan pemimpin bukan sekadar komunikasi biasa. Aryandi menyebut ucapan pemimpin berkaitan dengan amanah, marwah atau harga diri, serta kepercayaan masyarakat terhadap orang yang memimpin mereka.
Ia mengibaratkan lidah pemimpin sebagai kemudi bahtera. Apabila perkataan tidak dijaga, kepercayaan masyarakat dapat terganggu.
Aryandi juga mengingatkan ungkapan Melayu, "Raja alim raja disembah, raja zalim raja disanggah." Menurutnya, penghormatan kepada pemimpin harus berjalan seiring dengan perilaku yang mencerminkan amanah dan keadilan.
Pemimpin, lanjut dia, memikul tanggung jawab moral menjaga tutur kata. Perkataan yang menyakiti seseorang bisa berdampak lebih luas terhadap hubungan sosial dan kepercayaan masyarakat.
Adab Berbicara dalam Tradisi Melayu
Aryandi menyoroti pentingnya adab berbicara dalam tradisi Melayu yang berakar pada nilai agama dan adat istiadat, sebagaimana ungkapan "adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah."
Menurutnya, pemimpin perlu memahami cara berbicara sesuai situasi dan lawan bicara. Bahasa kepada bawahan atau generasi muda semestinya mengandung kasih sayang, bimbingan, dan sikap mengayomi, bukan merendahkan.
Ia juga mengingatkan bahwa pemimpin harus mampu memberikan nasihat, petunjuk, dan pencerahan, terutama ketika menghadapi perbedaan atau persoalan di tengah masyarakat. Aryandi mengangkat sejumlah petuah Melayu, antara lain "Kerbau pegang tali, manusia pegang kata" dan "Mulutmu harimaumu."
Petuah itu, kata dia, menjadi pengingat bahwa perkataan harus dipertanggungjawabkan dan setiap ucapan perlu dipertimbangkan agar tidak melukai orang lain.
Klarifikasi Bukan Tanda Kelemahan
Berdasarkan informasi yang ia terima dan pemberitaan sejumlah media, Aryandi berpandangan bahwa pemimpin perlu berani menjelaskan persoalan secara terbuka apabila ucapannya menimbulkan polemik. Klarifikasi, menurutnya, bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab memperbaiki komunikasi dan memulihkan kepercayaan.
Aryandi meminta Cen Sui Lan menanggapi surat klarifikasi yang telah dikirimkan redaksi Koran Perbatasan. Ia berharap Bupati Natuna menjelaskan maksud pernyataannya agar persoalan tidak terus menimbulkan tanda tanya.
Sebelumnya, Pemimpin Redaksi Koran Perbatasan Amran mengirimkan surat permohonan klarifikasi terkait ucapan, "Kamu dari mana? Koran Perbatasan? Tidak masuk!!" yang menurut redaksi disampaikan kepada wartawannya saat menjalankan tugas peliputan di Rumah Makan Ajo Basamo.
Amran menyatakan dirinya telah berupaya menanamkan etika dan profesionalisme kepada wartawan Koran Perbatasan. Ia mengkhawatirkan dampak kejadian tersebut terhadap mental, kepercayaan diri, dan semangat kerja jurnalistik wartawannya.
Aryandi berharap persoalan itu dapat dijernihkan melalui penjelasan terbuka dan sikap yang mencerminkan nilai-nilai adat Melayu. Menjaga perkataan, baginya, merupakan bagian dari tanggung jawab moral seorang pemimpin dalam mempertahankan marwah diri sekaligus kepercayaan masyarakat.