NATUNA — Kenaikan harga bahan baku plastik yang selama ini membebani pedagang dan konsumen justru dinilai membuka celah ekonomi baru bagi perajin lokal di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Pemerintah setempat melihat situasi ini bisa menjadi momentum bagi perajin tas kain dan tas berbahan plastik daur ulang untuk meningkatkan produksi.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro (Disperindagkopum) Natuna, Marwan Sjah Putra, mengungkapkan bahwa dampak positif ini akan terasa jika pedagang mulai menerapkan kebijakan kresek berbayar. Kantong plastik tipis yang biasa digunakan untuk membungkus barang belanjaan itu diperkirakan akan mulai ditinggalkan konsumen.
"Sebenarnya (kenaikan bahan baku plastik) berdampak positif bagi perajin tas kain atau yang berbahan plastik daur ulang," ujar Marwan saat dikonfirmasi di Natuna, Selasa.
Menurut Marwan, kebijakan kresek berbayar akan membuat masyarakat mencari alternatif pengganti yang lebih ekonomis dan bisa dipakai berulang kali. Salah satu pilihan yang paling memungkinkan adalah tas kain atau tas hasil daur ulang.
Di Natuna, kata dia, sudah ada komunitas perajin yang secara khusus memproduksi tas belanjaan dari plastik daur ulang. Mereka memanfaatkan kemasan berbahan plastik keras, seperti bekas deterjen, untuk disulap menjadi tas yang layak pakai.
"Namun dampak positif kenaikan harga bahan baku plastik untuk di Natuna belum dirasakan, karena yang berbelanja ke pasar masih pakai kantong kresek, dibanding tas belanja," katanya.
Di sisi lain, kenaikan harga bahan baku plastik sudah mulai dirasakan langsung oleh para pedagang. Marwan menerangkan, barang-barang kebutuhan pangan yang dikemas menggunakan plastik perlahan-lahan harganya ikut naik.
Kondisi ini membuat pedagang kesulitan menjaga pendapatan, terlebih ekonomi di Natuna dinilai belum sepenuhnya stabil pasca-pandemi. "Barang-barang yang dikemas menggunakan plastik perlahan mulai naik," ucapnya.
Marwan berharap, ke depan, kesadaran masyarakat untuk menggunakan tas belanja ramah lingkungan bisa meningkat. Jika kebijakan kresek berbayar benar-benar diterapkan secara luas, perajin lokal di Natuna disebut siap memenuhi permintaan pasar.