NATUNA — Warga Natuna kini bisa memeriksakan kesehatan secara gratis tanpa harus menunggu sakit. Dinas Kesehatan setempat menggencarkan skrining penyakit tidak menular melalui Posyandu, puskesmas, hingga mobile clinic yang menjangkau wilayah kepulauan terluar.
Tenaga Promosi Kesehatan Ahli Madya Dinkes Natuna, Erni Yusnita, mengatakan program ini sudah berjalan rutin secara berkala. Pelayanan diberikan setiap bulan di Posyandu yang tersebar di desa-desa.
“Di Posyandu itu dilayani mulai dari bayi sampai lansia. Jadi masyarakat bisa mendapatkan layanan kesehatan dasar secara rutin setiap bulan,” ujarnya, Rabu, 20 Mei 2026.
Skrining Kesehatan Gratis untuk Cegah Komplikasi Penyakit Kronis
Fokus utama program ini adalah skrining faktor risiko penyakit tidak menular. Pemeriksaan meliputi tekanan darah, gula darah, kolesterol, asam urat, hingga kesehatan mata, telinga, dan gigi.
Menurut Erni, komplikasi seperti stroke dan gagal ginjal menjadi perhatian serius karena sebagian besar dipicu oleh hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol. Melalui pemeriksaan rutin, tenaga kesehatan bisa mendeteksi kondisi berisiko lebih awal sehingga intervensi segera dilakukan.
Khusus untuk usia sekolah dan remaja, pemeriksaan juga mencakup skrining anemia, kebugaran, perilaku hidup bersih dan sehat, serta deteksi perilaku berisiko. Semua layanan ini gratis di seluruh puskesmas yang kini menerapkan sistem Integrasi Layanan Primer (ILP).
Tantangan Geografis dan Rendahnya Partisipasi Warga Sehat
Sebagai daerah kepulauan terluar, Natuna menghadapi hambatan serius dalam pemerataan pelayanan kesehatan. Jarak antar pulau, transportasi laut, dan cuaca ekstrem kerap menghambat mobilisasi tenaga kesehatan dan distribusi logistik medis.
Dari sisi masyarakat, partisipasi warga yang merasa sehat untuk datang skrining masih rendah. “Partisipasi masyarakat sehat untuk datang skrining terkadang masih rendah. Karena itu kami terus melakukan sosialisasi dan edukasi secara masif,” kata Erni.
Kendala internal juga tak kalah berat. Keterbatasan tenaga kesehatan dan logistik pemeriksaan seperti strip gula darah, kolesterol, dan asam urat harus tersedia secara berkelanjutan. Tenaga kesehatan di puskesmas harus membagi waktu antara pelayanan di dalam gedung dan pelayanan lapangan ke wilayah terpencil.
Target: Satu Kali Skrining Setahun untuk Setiap Warga
Program ini menyasar seluruh siklus hidup, mulai dari bayi, balita, remaja, usia produktif 15-59 tahun, ibu hamil, hingga lansia. Target utamanya adalah meningkatkan capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan, di mana setiap warga diharapkan menjalani skrining kesehatan minimal satu kali dalam setahun.
Dinas Kesehatan Natuna berharap program ini bisa menjadi budaya baru. Kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) terus digencarkan dengan mendorong warga berolahraga, mengonsumsi buah dan sayur, tidak merokok, serta mampu mengelola stres.
“Harapan kami masyarakat Natuna bisa hidup lebih lama dalam kondisi sehat, tetap produktif, dan memiliki kesadaran mandiri terhadap kesehatannya,” ungkap Erni.
Jika budaya cek kesehatan rutin sudah terbentuk, beban biaya pengobatan jangka panjang juga bisa ditekan, terutama biaya penanganan penyakit kronis di rumah sakit rujukan. Bagi Natuna yang memiliki rentang kendali pelayanan luas, langkah preventif ini menjadi kunci menekan angka kesakitan.