KEPULAUAN RIAU — Jakarta — Penutupan sekitar 1.000 titik tambang ilegal di Bangka Belitung pada akhir 2025 membuahkan hasil nyata bagi kinerja keuangan PT Timah Tbk. Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan, laba perusahaan pelat merah itu melonjak drastis pada enam bulan pertama 2026.
“Bayangkan dalam 6 bulan tahun 2026 ini, PT Timah telah mencapai keuntungan Rp2,7 triliun, sembilan kali lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Artinya naik 900 persen,” ujar Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8).
Tak hanya laba, valuasi PT Timah juga ikut menguat signifikan. Prabowo menyebut nilai perusahaan naik hingga 280 persen pada Agustus 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertamina, Semen Indonesia, hingga Pupuk Indonesia Ikut Moncer
Perbaikan kinerja BUMN tak hanya terjadi di sektor tambang. Prabowo memaparkan sejumlah perusahaan negara lain juga mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang impresif pada paruh pertama 2026. PT Semen Indonesia membukukan kenaikan laba 408,9 persen, sementara PT Pupuk Indonesia tumbuh 252,8 persen.
Di sektor energi, laba bersih PT Pertamina naik 86 persen. Adapun PT Pegadaian mencatat pertumbuhan 84,4 persen, disusul PT Pelindo yang tumbuh 60,4 persen dan PT PTPN yang meningkat 54,4 persen.
“Untung bersih Pertamina naik 86 persen. Untung bersih Pegadaian naik 84,4 persen. Saudara-saudara, untung bersih Pelindo naik 60,4 persen dan untung bersih PTPN naik 54,4 persen,” tuturnya.
Garuda Indonesia Bangkit, 20 Pesawat Kembali Mengudara
Kabar baik juga datang dari PT Garuda Indonesia yang selama bertahun-tahun tertekan masalah keuangan. Pemerintah melakukan reaktivasi terhadap pesawat yang sebelumnya tidak dapat beroperasi atau grounded untuk menambah kapasitas penerbangan.
Hingga Juni 2026, sebanyak 20 pesawat berhasil direaktivasi, sehingga total armada Garuda yang kembali beroperasi mencapai 140 unit. Prabowo optimistis maskapai pelat merah ini bisa segera keluar dari jerat kerugian.
“Kalau kemarin tidak terjadi perang di Timur Tengah, sesungguhnya bulan Juli ini Indonesia sudah untung. Kita sekarang berharap di awal tahun 2027 mereka sudah mulai untung,” ucapnya.
Rangkaian perbaikan kinerja ini dinilai menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional. Dengan tata kelola yang lebih bersih dan pengawasan yang ketat, kontribusi BUMN terhadap kas negara diproyeksikan akan semakin besar di tengah tantangan ekonomi global.