KEPULAUAN RIAU — Kushner, menantu Presiden AS Donald Trump, menggelar pembicaraan dengan delegasi Hamas yang dipimpin pemimpin baru kelompok itu, Khalil al-Hayya, di Mesir pada Minggu. Pertemuan ini disebut-sebut sebagai kontak tingkat tinggi pertama sejak gencatan senjata Gaza disepakati tahun lalu.
Dewan Perdamaian, organisasi internasional yang dibentuk Trump dan kini dipimpinnya, bulan lalu mengumumkan tercapainya kesepakatan untuk "pelucutan senjata total" Hamas dan kelompok bersenjata lain di Gaza. Namun pekan lalu Israel justru menolak rencana 15 poin yang juga menuntut penarikan pasukan Israel dan rekonstruksi Gaza di bawah pemerintahan sipil Palestina baru.
Isi Pertemuan Kushner dengan Hamas di Mesir
Menurut laporan media Israel, pembicaraan di Mesir itu berfokus pada langkah konkret untuk menonaktifkan persenjataan Hamas, penarikan pasukan Israel, dan upaya kemanusiaan. Utusan Dewan Perdamaian Nickolay Mladenov dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair dilaporkan turut hadir, bersama perwakilan Mesir, Qatar, dan Turki yang selama ini menjadi mediator.
Selain bertemu Hamas, Kushner juga menemui Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi. Mladenov dan Blair dijadwalkan bergabung dalam pertemuan dengan Netanyahu pada Senin untuk mendorong kemajuan rencana Trump.
Posisi Netanyahu dan Tekanan Politik Dalam Negeri
"Israel menolak dokumen 15 poin Dewan Perdamaian tentang Gaza. IDF tidak akan melakukan penarikan apa pun sampai Hamas benar-benar dilucuti," kata Netanyahu pekan lalu, membantah sekutu terdekatnya. Pernyataan ini muncul di tengah tekanan dari koalisi pemerintahannya sendiri, termasuk Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Itamar Ben Gvir yang menyebut rancangan itu "tidak dapat diterima".
Netanyahu menghadapi pemilu Oktober yang ketat untuk mempertahankan kekuasaan. Banyak warga Israel juga skeptis bahwa Hamas siap menyerahkan senjata. Dalam wawancara siniar dengan Rom Braslavski, sandera yang dibebaskan dari serangan 7 Oktober, Ben Gvir mengaku tidak sependapat dengan perdana menteri dan mendukung "pembunuhan tertarget" terhadap puluhan orang setiap malam. Komentarnya yang kontroversial itu dilaporkan oleh Associated Press, Financial Times, dan Times of Israel.
Respons Kawasan dan Kondisi di Lapangan
Delapan negara Muslim—Mesir, Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, Yordania, Turki, Pakistan, dan Indonesia—mengeluarkan pernyataan bersama pada Minggu yang mengecam penolakan Israel. Mereka menilai sikap itu mengancam upaya perdamaian Trump.
Gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober tahun lalu secara teknis masih bertahan, tetapi militer Israel hampir setiap hari melancarkan serangan. Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas mencatat lebih dari 1.200 orang tewas sejak gencatan senjata, sementara Unicef menyebut sedikitnya 300 anak dilaporkan tewas.
Sempat terjadi jeda serangan—dilaporkan atas permintaan AS—setelah Israel menolak rencana 15 poin. Namun serangan kembali dilanjutkan. Pada Minggu, militer Israel mengatakan menargetkan "teroris" Hamas dan Jihad Islam di Khan Younis dan Nuseirat, sementara tim medis setempat melaporkan sejumlah warga di kamp tenda Khan Younis terluka. Israel dan Hamas saling menuduh melanggar gencatan senjata.
Perang ini dipicu serangan yang dipimpin Hamas ke Israel selatan pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya. Serangan balasan Israel sejak itu telah menewaskan lebih dari 73.000 orang di Gaza, termasuk 21.280 anak, menurut kementerian kesehatan setempat. PBB memperkirakan sekitar 1,9 juta orang—90 persen populasi Gaza—mengungsi sejak perang dimulai.