JAKARTA — Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo memimpin langsung Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Stadion Marilonga, Kabupaten Ende, NTT, pada Senin (17/8/2026). Kegiatan ini berlangsung di sela-sela penanganan darurat gempa bumi yang melanda wilayah NTT beberapa hari sebelumnya.
Hadir dalam upacara tersebut Bupati Ende Yosef Benediktus beserta Wakil Bupati Ende Dominikus Minggu. Kendati upacara sempat berhenti sejenak akibat gempa susulan berkekuatan 5,8 SR, acara tetap dilanjutkan dengan mengutamakan keselamatan dan kesiapsiagaan seluruh peserta.
Dalam amanatnya, Menteri Dody menyampaikan belasungkawa dan doa untuk para korban gempa yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026). "Hati dan doa kita juga bersama saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur yang 2 hari lalu diguncang gempa bumi. Semoga seluruh masyarakat yang terdampak diberi keselamatan dan kekuatan, dan keadaan segera pulih," kata Dody dalam keterangan tertulis, Senin, (17/8/2026).
Dody menegaskan Kementerian PU siap siaga melakukan penanggulangan darurat sekaligus memulihkan infrastruktur publik. Menurutnya, negara wajib hadir di saat sarana jalan terputus, pasokan air bersih terhenti, fasilitas sekolah tak dapat dipakai, maupun ketika warga kehilangan tempat tinggal.
"Bagi kita di Kementerian PU ukurannya sederhana, apakah pekerjaan kita sudah benar-benar memudahkan hidup rakyat. Pekerjaan kita belum selesai ketika konstruksi selesai, pekerjaan kita selesai ketika air benar-benar sampai ke sawah," kata Menteri Dody.
Peringatan kemerdekaan ini juga dijadikan ajang mempertegas komitmen Kementerian PU dalam menghadirkan peran negara melalui pembangunan infrastruktur yang manfaatnya dirasakan rakyat. Langkah tersebut sejalan dengan empat pedoman arahan Presiden Prabowo Subianto, yakni menegakkan UUD 1945, mengutamakan kepentingan nasional, menangani persoalan rakyat secara cepat, serta bekerja untuk kesejahteraan masyarakat dan generasi penerus.
Mengakhiri pidatonya, Menteri Dody berpesan agar seluruh jajaran Kementerian PU memaknai kemerdekaan dengan kerja nyata yang bermanfaat bagi publik. Semangat itu diwujudkan lewat penyediaan infrastruktur yang memperluas konektivitas, memperkuat ketahanan pangan dan air, meningkatkan taraf hidup, serta menjamin hadirnya negara saat masyarakat tertimpa bencana.
### Kerusakan dan Dampak Gempa NTT
Adapun gempa berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang NTT pada Sabtu (15/8/2026) tercatat sebagai salah satu gempa terbesar secara global tahun ini. Data United States Geological Survey (USGS) menunjukkan skala gempa tersebut berada tepat di bawah gempa M7,8 yang melanda Filipina pada Juni lalu.
Berdasarkan laporan BMKG, gempa terjadi pukul 05.58 WITA dengan pusat gempa di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer. Getaran dirasakan luas hingga wilayah NTT, NTB, dan sebagian Sulawesi Selatan.
Hingga Sabtu petang, data sementara BNPB mencatat 47 korban jiwa dan sekitar 2.000 warga Kabupaten Nagekeo mengungsi. BMKG juga mengidentifikasi 37 gempa susulan dengan rentang magnitudo M3,7 hingga M6,2.
Kerusakan fisik mencakup 157 rumah rusak berat, 41 rusak sedang, 148 rusak ringan, serta puluhan gedung sekolah, sarana kesehatan, kantor pemerintahan, pelabuhan, dan terminal bandara. BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami setelah mendeteksi kenaikan permukaan air laut 0,14 hingga mendekati 1 meter di beberapa pesisir, sebelum akhirnya peringatan dicabut.