NATUNA — Peserta pawai tidak hanya memakai pakaian adat Melayu Natuna. Sebagian siswa tampil sebagai dokter, TNI, Polri, koki, pilot, perawat, dan pimpinan proyek. Kreativitas lain muncul lewat sepeda mungil yang dihias menyerupai tank militer.
Satu siswa memerankan Pahlawan Pattimura seperti pada uang kertas pecahan Rp1.000. Gambar uang itu ditempel di belakang tubuhnya. Iringan drum band MTsN 2 Natuna mengantar satu per satu barisan meninggalkan halaman sekolah.
Kurikulum Muatan Lokal Geopark Sedang Disusun
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Natuna Ilham Kauli melepas langsung peserta pawai. Menurut dia, pemerintah daerah tengah menyusun kurikulum muatan lokal Geopark untuk sekolah-sekolah.
Materi akan disesuaikan dengan jenjang pendidikan, dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas. Ilham menyebut pendidikan Geopark perlu diberikan sejak usia dini.
"Berbicara tentang Geopark bukan hanya berbicara tentang batu, tetapi juga mencakup geologi, biodiversitas, dan budaya masyarakat. Melalui kegiatan seperti pawai budaya ini, kita mengenalkan kepada anak-anak keberagaman suku, bahasa, adat istiadat, dan budaya," ujarnya.
Bahasa Daerah hingga Kesenian Masuk Materi
Kurikulum tersebut tidak berhenti pada kekayaan alam. Ilham menjelaskan cakupannya meliputi bahasa daerah, kesenian, tradisi, serta nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Ia berharap anak-anak Natuna tumbuh dengan pemahaman bahwa manusia bukan perusak alam. Manusia, katanya, adalah bagian dari lingkungan yang harus beradaptasi, menjaga, dan melestarikannya.
Pengenalan budaya lokal juga dinilai penting untuk menahan gerusan bahasa dan tradisi daerah. Kekayaan budaya yang tetap hidup dapat menjadi identitas sekaligus daya tarik wisatawan.
Belajar dari Bali, Target Rampung Tahun Ini
Ilham mencontohkan Bali yang menarik wisatawan lewat kekuatan adat istiadat, seni, dan budaya. Menurutnya, Natuna punya potensi serupa melalui keberagaman budaya warisan masyarakatnya.
Pelestarian itu tidak hanya soal identitas daerah. Ilham menilai budaya yang terjaga berpeluang mendorong pariwisata dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Penyusunan kurikulum muatan lokal Geopark masih dalam tahap pembahasan. Disdikbud Natuna menargetkan penyusunan selesai tahun ini, lalu dilanjutkan dengan sosialisasi.
Bagi sebagian siswa, pagi itu mungkin hanya soal memakai kostum berbeda dan berjalan bersama teman diiringi musik. Di baliknya, ada pemahaman yang mulai ditanamkan: kekayaan alam dan budaya Natuna adalah warisan yang perlu dikenal, dijaga, dan diteruskan.