KEPULAUAN RIAU — Laba hilir ExxonMobil melonjak 120% menjadi US$ 9 miliar atau Rp 163,32 triliun pada kuartal III 2026, ditopang margin penyulingan yang melebar akibat kekurangan pasokan diesel global. Kenaikan itu menutupi penurunan pendapatan hulu perseroan yang turun 20% ke US$ 7,3 miliar atau Rp 132,47 triliun. Secara keseluruhan, total pendapatan disesuaikan ExxonMobil mencapai US$ 17,5 miliar atau Rp 317,57 triliun, melampaui estimasi analis Wall Street sebesar US$ 16,6 miliar.
Raksasa migas asal Amerika Serikat, ExxonMobil, membukukan kinerja kuartal III 2026 yang melampaui ekspektasi pasar. Kilang-kilang perseroan di Pantai Teluk AS beroperasi pada tingkat pemanfaatan minyak mentah 100% dan mencatat produksi diesel tertinggi kedua dalam sejarah perusahaan, seperti dilaporkan Reuters.
Margin Penyulingan Melebar akibat Pasokan Diesel Dunia Menipis
Pendapatan hilir yang disesuaikan mencapai US$ 9 miliar atau Rp 163,32 triliun pada kuartal III 2026. Angka itu melonjak 120% dibanding kuartal II 2026.
Pemicunya adalah gangguan kapasitas produksi bahan bakar global yang memicu kekurangan pasokan diesel. Kondisi ini terjadi di tengah memanasnya pertempuran di kawasan Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina yang mengguncang pasar energi.
Bagi Exxon, kelangkaan pasokan justru berbalik menjadi keuntungan karena margin penyulingan ikut terdongkrak.
Pendapatan Hulu Turun 20% karena Harga Brent Lebih Rendah
Di sisi hulu, pendapatan segmen migas yang disesuaikan tercatat US$ 7,3 miliar atau Rp 132,47 triliun. Capaian itu turun 20% dari kuartal sebelumnya.
Penurunan disebabkan harga minyak mentah Brent sebagai acuan global lebih rendah dibanding tiga bulan sebelumnya. Produksi Exxon sendiri relatif stabil di 4,5 juta barel setara minyak per hari, kurang lebih sama dengan kuartal II.
Dari lini produk khusus, perseroan mencatat laba disesuaikan US$ 1,3 miliar atau Rp 23,59 triliun, naik 32% dari kuartal sebelumnya.
Laba per Saham US$ 4,23 dan Buyback US$ 20 Miliar untuk 2027
Total pendapatan disesuaikan ExxonMobil sepanjang kuartal III 2026 mencapai US$ 17,5 miliar atau Rp 317,57 triliun. Realisasi itu di atas perkiraan rata-rata analis Wall Street sebesar US$ 16,6 miliar atau Rp 301,24 triliun.
Laba per saham yang disesuaikan untuk pemilik saham mencapai US$ 4,23 atau Rp 76.761 per lembar. Ekspektasi analis sebelumnya berada di rata-rata US$ 4,08 atau Rp 74.039 per lembar.
Dari laba tersebut, ExxonMobil membayarkan dividen US$ 4,3 miliar atau Rp 78,03 triliun dan melakukan buyback saham senilai US$ 5,1 miliar atau Rp 92,54 triliun. Perusahaan juga mengumumkan program buyback US$ 20 miliar atau Rp 362,94 triliun untuk 2027, jumlah yang sama seperti 2026.
Skala dan Integrasi Jadi Kunci Menurut CEO Darren Woods
CEO Exxon, Darren Woods, menyebut perseroan terus berupaya memenuhi kebutuhan energi global di tengah berbagai tantangan. Menurutnya, skala usaha, integrasi, dan kemampuan teknis menjadi modal utama perseroan.
"Kami terus berupaya mengatasi tantangan dalam memenuhi kebutuhan energi global, dengan memanfaatkan skala, integrasi, dan kemampuan teknis yang tak tertandingi," kata Woods, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (31/10/2026).
Kinerja kuartalan ExxonMobil menjadi gambaran bagaimana konflik geopolitik di Timur Tengah dan Eropa mengubah peta keuntungan di sektor energi. Bagi konsumen, tekanan pada pasokan diesel global adalah sinyal yang perlu dicermati karena berpotensi menular ke biaya logistik dan harga barang.