TANJUNGPINANG — Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) melalui Dinas Perhubungan (Dishub) tengah mengkaji pembukaan jalur lintasan kapal feri tipe Roll-on/Roll-off (RoRo) rute Tanjungpinang-Batam. Langkah ini diambil untuk memperpendek konektivitas yang selama ini mengharuskan warga memutar melalui Kabupaten Bintan.
Kepala Dishub Kepri Junaidi mengungkapkan, saat ini masyarakat Tanjungpinang yang ingin menyeberang ke Batam menggunakan RoRo harus menempuh perjalanan darat sekitar satu jam menuju Pelabuhan Tanjung Uban di Bintan. Dari sana, kapal baru berlayar ke Pelabuhan Punggur di Batam.
"Lintasan RoRo Tanjung Uban - Punggur (Batam) memang dekat, namun warga dari Tanjungpinang harus menempuh jalur darat sekitar satu jam sebelum naik RoRo. Makanya ada wacana dibuka jalur RoRo langsung Tanjungpinang - Batam, sehingga tak perlu jauh-jauh lagi ke Bintan," kata Junaidi di Tanjungpinang, Senin.
Dishub Kepri saat ini berkoordinasi dengan PT ASDP Indonesia Ferry dan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) untuk mengkaji ketersediaan armada. Menurut Junaidi, kapal yang dibutuhkan harus disesuaikan dengan kondisi pelabuhan, jarak penyeberangan, dan arus lalu lintas di perairan Pulau Dompak.
Pelabuhan Dompak selama ini melayani rute Tanjungpinang-Karimun dan Tanjungpinang-Lingga dengan kapal feri jenis KMP Kundur. Kapal dengan kapasitas 500 hingga 600 GT dinilai ideal untuk lintasan baru ini.
"Maka itu, RoRo yang dibutuhkan untuk lintasan Tanjungpinang-Batam harus sejenis dengan KMP Kundur, dengan kapasitas 500-600 GT," ungkapnya.
Pemerintah daerah tidak menutup kemungkinan membuka peluang investasi bagi perusahaan swasta yang berminat mengoperasikan angkutan RoRo rute Tanjungpinang-Batam. Junaidi menegaskan, tidak ada masalah jika pihak swasta tertarik.
"Silakan, kalau ada swasta yang berminat. Tak ada masalah," kata Junaidi.
Selain teknis, Dishub Kepri bersama ASDP juga mengkaji aspek ekonomis dari penyeberangan ini, terutama terkait penggunaan Pelabuhan RoRo Dompak. Junaidi berharap feri Tanjungpinang-Batam dapat segera beroperasi untuk memperlancar lalu lintas penumpang dan barang antardaerah sekaligus mendorong denyut ekonomi masyarakat.