TANJUNGPINANG — Kepemimpinan di Partai Demokrat Kepulauan Riau tidak selalu diisi oleh figur yang muncul tiba-tiba. Nama Aneng menjadi contoh bagaimana seorang kader melewati masa sulit partai sebelum akhirnya dipercaya memimpin. Ia memulai pengabdian sejak tahun 2002, ketika Kepulauan Riau masih bergabung dengan Provinsi Riau dan Demokrat baru membangun organisasi di tingkat bawah.
Perjalanan itu tidak mudah. Aneng pernah menjabat Ketua DPC setelah Kabupaten Karimun terbentuk, kemudian dipercaya sebagai Bendahara DPD Demokrat Kepri. Pengalaman panjang ini membuatnya memahami denyut politik daerah kepulauan yang penuh keterbatasan akses dan kepentingan yang beragam.
Loyalitas Aneng diuji ketika internal Demokrat Kepri mengalami kisruh kepemimpinan pada 2022. Banyak kader memilih menunggu arah situasi, namun ia justru maju untuk menjaga partai agar tidak semakin terpecah. Langkah itu tidak semata tentang perebutan kekuasaan, melainkan kesadaran bahwa konflik berkepanjangan akan menggerus kepercayaan masyarakat.
Kepercayaan dari DPP Partai Demokrat akhirnya datang pada 2023. Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono menerbitkan Surat Keputusan yang menetapkan Aneng sebagai Ketua DPD Demokrat Kepri. Keputusan itu dinilai bukan sekadar administrasi organisasi, melainkan bentuk keyakinan bahwa ia mampu memimpin partai ke depan.
Aneng tidak hanya berhasil di internal partai. Pada Pilkada 2024, ia memenangkan hati masyarakat dan terpilih menjadi Bupati Kepulauan Anambas. Kemenangan ini menjadi penanda bahwa gaya kepemimpinan yang tenang, membumi, dan dekat dengan rakyat masih memiliki tempat di tengah masyarakat Kepri.
Modal politik ini dinilai penting karena Kepulauan Riau bukan wilayah yang mudah dipimpin secara politik. Karakter daerahnya beragam, wilayahnya dipisahkan lautan, dan kepentingan tiap daerah sering kali berbeda. Seorang ketua partai tidak cukup pandai berbicara; ia harus menjadi penghubung dan merawat kebersamaan di internal partai.
Aneng datang dari wilayah perbatasan, dari daerah yang sering berada jauh dari pusat perhatian. Pengalaman itulah yang membuatnya memahami arti perjuangan politik yang sesungguhnya: mendengar suara masyarakat yang kerap luput didengar.
Ke depan, Demokrat Kepri membutuhkan sosok yang bukan hanya menjaga eksistensi partai, tetapi juga mampu menghadirkan harapan baru bagi kader-kader muda. Politik hari ini tidak lagi cukup dibangun hanya dengan kekuatan elit. Partai membutuhkan kedekatan emosional dengan masyarakat serta figur yang mampu membuat politik terasa dekat dengan kehidupan rakyat sehari-hari.
Aneng membawa karakter kepemimpinan yang tidak meledak-ledak, tetapi perlahan mengakar. Di politik daerah, pemimpin seperti itu sering kali justru yang paling dibutuhkan.