KEPULAUAN RIAU — Kinerja tersebut diumumkan oleh Direktur Utama SeaBank Indonesia Sasmaya Tuhuleley dalam keterangan resmi, Kamis (21/5). Ia menyebut capaian ini sebagai bukti nyata ketangguhan model bisnis bank digital dalam menjawab kebutuhan finansial masyarakat.
"Kami akan terus menjaga momentum ini dengan menghadirkan teknologi layanan keuangan, demi menciptakan akses yang lebih luas bagi setiap lapisan masyarakat," ujar Sasmaya.
Hingga Maret 2026, total aset SeaBank mencapai Rp49,7 triliun, tumbuh 33 persen secara tahunan dari Rp37,4 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi penyaluran kredit yang berkualitas dan penempatan likuiditas yang prudent pada instrumen aman.
Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) bank digital ini melonjak 44,58 persen menjadi Rp39,1 triliun. Yang menarik, porsi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) mendominasi sebesar 69,10 persen dari total DPK. Struktur dana murah yang tinggi biasanya menekan biaya bunga dan memperlebar margin keuntungan bank.
Penyaluran kredit SeaBank juga tumbuh 40,83 persen secara tahunan menjadi Rp34,80 triliun. Fokus bisnis kredit diarahkan pada segmen retail individual melalui produk direct lending dan kerja sama strategis dengan perusahaan pembiayaan (multifinance) serta mitra lending partner.
Meskipun agresif menyalurkan kredit, SeaBank tetap menjaga kualitas aset. Rasio Non-Performing Loan Gross (NPL Gross) tercatat terkendali di angka 1,56 persen. Angka ini masih di bawah ambang batas yang ditetapkan regulator.
Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) berada di level 21,88 persen pada akhir kuartal I 2026. Level ini menunjukkan SeaBank memiliki bantalan modal yang kuat untuk mendukung rencana ekspansi jangka panjang.
"Kinerja SeaBank di awal 2026 adalah bukti nyata bahwa bank digital dapat tumbuh pesat sekaligus tetap pruden. Setiap angka dalam laporan keuangan ini merepresentasikan kepercayaan nasabah yang kami jaga," pungkas Sasmaya.