NATUNA — Polres Natuna berkolaborasi dengan Komunitas Gasing Kabupaten Natuna menggelar turnamen permainan tradisional khas daerah untuk menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80. Kegiatan ini menyasar pelajar sebagai upaya regenerasi budaya lokal di tengah gempuran gawai.
Turnamen digelar di kawasan Pantai Piwang selama dua hari, mulai pukul 07.00 WIB hingga selesai. Panitia menyiapkan hadiah berupa uang pembinaan dan piagam penghargaan bagi para juara.
Mengapa Polisi Ambil Peran dalam Permainan Gasing?
Kapolres Natuna, Novyan Aries Efendie, menyebut turnamen ini bukan sekadar ajang kompetisi. Menurutnya, kegiatan itu menjadi bagian dari upaya Polri menjaga warisan budaya daerah sekaligus membangun karakter generasi muda melalui olahraga tradisional.
“Turnamen ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga bentuk kepedulian untuk menjaga dan melestarikan permainan tradisional khas Natuna agar tetap hidup dan dikenal generasi muda,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Nilai Sportivitas dan Kebersamaan Jadi Target
Kapolres menambahkan, selain menjadi hiburan masyarakat, turnamen gasing diharapkan mampu menanamkan nilai sportivitas, disiplin, dan kebersamaan. Kegiatan ini juga menjadi ajang mempererat hubungan antara Polri dan masyarakat Natuna.
Ketua Komunitas Gasing Kabupaten Natuna, Wan Arismunandar, mengapresiasi dukungan Polres Natuna. Ia menegaskan gasing merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Natuna yang harus terus dijaga.
“Gasing merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Natuna yang harus terus dijaga. Kami berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah,” ungkapnya.
Gratis dan Terbuka untuk Pelajar SMP/MTs
Turnamen ini dikhususkan bagi pelajar tingkat SMP/MTs sederajat di Kabupaten Natuna. Peserta tidak dipungut biaya pendaftaran alias gratis. Masyarakat maupun peserta yang ingin memperoleh informasi lebih lanjut dapat menghubungi panitia melalui kontak yang telah disediakan.
Melalui kegiatan ini, Polres Natuna berharap semangat HUT Bhayangkara ke-80 dapat diwujudkan tidak hanya melalui pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga lewat upaya nyata menjaga eksistensi budaya tradisional di daerah perbatasan.