KEPULAUAN RIAU — Bosan dengan notifikasi yang tiada henti? Dumb Co, startup yang lahir dari komunitas Month Offline, punya jawabannya. Mereka menjual flip phone yang sudah dimodifikasi dengan software sendiri, bukan sekadar ponsel jadul biasa. Perangkat ini bisa disinkronkan dengan iPhone, menciptakan keseimbangan antara konektivitas tanpa batas dan keterbatasan ponsel era 2000-an.
Apa Itu Dumb Phone?
Secara fisik, Dumb Phone adalah ponsel TCL lipat seharga 20 dolar AS (sekitar Rp 330 ribu) yang diberi nyawa baru. Dumb Co memuat software khusus di dalamnya agar pengguna bisa mengakses aplikasi populer seperti WhatsApp, Spotify, Apple Music, dan Uber. Bahkan, iMessage bisa diakses melalui aplikasi pihak ketiga.
"Kami mencoba membuat sesuatu di mana Anda bisa meninggalkan smartphone di rumah dan benar-benar menjalani hidup serta berinteraksi dengan orang lain," ujar Afreka Ebanks, direktur komunikasi Dumb Co, kepada TechCrunch. Fitur penerusan panggilan dan SMS bisa dimatikan kapan saja, sehingga pengguna bisa kembali ke smartphone saat di rumah.
Pengalaman Menggunakan Dumb Phone
Setelah sebulan menguji perangkat ini, jurnalis TechCrunch mengakui ada sensasi menyegarkan saat tidak bisa membuka media sosial atau email. Mengetik dengan metode T9 memang lebih lambat dari keyboard QWERTY biasa, tapi justru di situlah letak tujuannya: memperlambat ritme hidup.
"Saya melihat orang-orang di lampu merah bertanya, 'Apa yang kamu pegang itu?'" kata Ebanks, yang menghias ponsel lipatnya dengan stiker. Ia menambahkan bahwa ponsel ini menjadi pemantik percakapan yang hebat, karena pengguna tidak lagi sibuk menunduk melihat layar.
Tantangan: Antara Kebutuhan dan Kebiasaan
Lydia Peabody, mantan terapis yang kini menjadi CMO Dumb Co, menantang jurnalis untuk benar-benar meninggalkan iPhone di rumah. "Ketika Anda mengatakan kata 'butuh', itu hampir sama artinya dengan 'saya butuh makanan atau tempat tinggal'," kata Peabody. Ia mencontohkan, jika tidak tahu jadwal bus, kita bisa bertanya pada orang di sebelah.
Peabody sendiri berhasil melakukan perjalanan lintas negara ke New Mexico tanpa smartphone selama tujuh minggu. "Saya benar-benar ingin Anda melakukan ini, karena saya tahu ini adalah sesuatu yang paling baik dialami langsung," tantangnya.
Kesimpulan: Untuk Siapa Dumb Phone?
Dumb Phone bukan untuk semua orang. Perangkat ini terasa lambat dan kikuk, terutama bagi pengguna yang terbiasa dengan kecepatan smartphone modern. Namun, bagi mereka yang merasa cemas akibat screen time berlebihan dan ingin hadir lebih penuh dalam interaksi sosial, ponsel ini bisa menjadi alat bantu yang efektif.
Dengan harga yang relatif terjangkau dan kemampuan untuk tetap terhubung ke aplikasi esensial, Dumb Phone menawarkan jalan tengah yang realistis. Bukan untuk mengganti smartphone, tapi untuk memberi kita pilihan kapan harus benar-benar offline.