KEPULAUAN RIAU — Musim kemarau 2026 membawa dampak signifikan bagi sejumlah kawasan konservasi dan destinasi wisata alam di Indonesia. Kementerian Kehutanan mencatat lonjakan hotspot yang mengindikasikan tingginya risiko kebakaran, tidak hanya di hutan produksi tetapi juga di taman nasional yang menjadi tujuan favorit wisatawan. Situasi ini membuat sejumlah kawasan sempat ditutup sementara dan membutuhkan kewaspadaan ekstra bagi siapa pun yang hendak berkunjung.
Kalimantan: 6 Provinsi Prioritas Penanganan Karhutla
Pemerintah telah menetapkan enam provinsi sebagai wilayah prioritas pengendalian karhutla: Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Jambi, dan Riau. Data BNPB per 22 Agustus mencatat luas karhutla di Indonesia mencapai 72.798,73 hektare, dengan Kalimantan Barat sebagai provinsi terluas terdampak (38.310,89 hektare).
Angka tersebut berbeda dengan catatan Kementerian Kehutanan yang menggunakan pemantauan satelit. Sepanjang Januari-Juli 2026, sekitar 202.004 hektare lahan terdampak kebakaran, dan hampir 95.000 hektare di antaranya terbakar hanya dalam satu bulan, yakni Juli. Kondisi panas dan kering menjadi faktor utama yang membuat vegetasi mudah terbakar, sementara aktivitas manusia turut memicu api.
Gunung Bromo Kembali Buka Setelah Api Padam
Kebakaran melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada awal Agustus 2026. Tim gabungan bekerja intensif untuk mencegah api menyebar lebih luas, dan dampaknya sempat menutup aktivitas wisata di Bromo. Kabar baiknya, kawasan wisata Bromo resmi dibuka kembali untuk wisatawan mulai 20 Agustus 2026 setelah kondisi dinyatakan aman.
Bagi yang berencana ke Bromo, pantau terus informasi resmi dari TNBTS. Luasan area terdampak dalam berbagai laporan bisa berubah seiring pembaruan pemetaan di lapangan, jadi pastikan mengikuti kanal resmi sebelum berangkat.
Gunung Semeru Masih Membara: 7 Titik Api Ditangani
Ancaman kebakaran di TNBTS belum berakhir. Beberapa hari setelah Bromo terkendali, api kembali muncul di kawasan Gunung Semeru. Hingga 29 Agustus 2026, petugas gabungan masih menangani tujuh titik api yang tersebar di Ledok Bedor, Blok Jantur, Blok Ranukembang, Ayak-Ayak, Watu Rejeng, Ranu Kumbolo, dan Puncak Trisula.
Medan yang sulit dijangkau menjadi kendala utama pemadaman. Dua helikopter bantuan BPBD Jawa Timur dikerahkan pada 28 Agustus untuk melakukan water bombing di lokasi yang tak bisa dijangkau jalur darat. Berdasarkan pemetaan TNBTS, sekitar 170 hektare kawasan Semeru terdampak, sebagian besar merupakan ekosistem sabana. Hingga kini, penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan.
Way Kambas dan Desa Adat Sade Juga Terdampak
Kebakaran tidak hanya terjadi di Jawa Timur. Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung Timur mengalami kebakaran dengan sekitar 673 hektare lahan terdampak. Peristiwa serupa juga melanda Desa Adat Sade di Lombok, yang dikenal sebagai destinasi wisata budaya dengan rumah-rumah tradisional Sasak.
Bagi traveler yang memiliki rencana perjalanan ke kawasan konservasi atau destinasi alam terbuka dalam waktu dekat, ada baiknya memeriksa status terbaru dari pihak pengelola taman nasional atau dinas pariwisata setempat. Kondisi cuaca yang panas dan kering meningkatkan risiko kebakaran, dan beberapa jalur pendakian atau area wisata mungkin ditutup sementara demi keselamatan.