KEPULAUAN RIAU — VENESIA, KOMPAS.com — Festival Film Venesia kembali menghadapi kritik atas ketidakseimbangan gender dalam seleksi resminya. Kondisi ini memicu pernyataan tegas dari aktris sekaligus sutradara Maggie Gyllenhaal yang menjabat presiden juri kompetisi utama tahun ini.
Hanya Dua Sutradara Perempuan dari 21 Film
Dari daftar awal 21 film yang bersaing memperebutkan Singa Emas, hanya Woman Unknown arahan May el-Toukhy yang masuk kategori film garapan perempuan. Festival kemudian menambahkan film dokumenter Gaza berjudul NAZA yang disutradarai Yuval Abraham dan Rachel Szor, sehingga totalnya menjadi dua judul.
Direktur artistik Venesia, Alberto Barbera, sebelumnya mengakui disparitas ini saat pengumuman daftar film dan menyebutnya sebagai angka terendah dalam beberapa edisi terakhir.
"Lebih Sulit bagi Perempuan Mendapatkan Dana"
Gyllenhaal menilai persoalan ini tidak berdiri sendiri. Menurutnya, ada hambatan struktural yang membuat karya sutradara perempuan sulit tampil di panggung sebesar Venesia.
"Jauh lebih sulit bagi perempuan untuk mendapatkan pendanaan film mereka," ujar Gyllenhaal dalam konferensi pers juri, Rabu (27/8/2025).
Ia juga mempertanyakan standar penilaian terhadap karya perempuan. "Mungkinkah hal-hal yang ingin perempuan angkat dalam film—karena mereka memiliki pengalaman hidup yang berbeda—tidak selalu dianggap sebagai seni tinggi?"
Aktris yang dikenal lewat perannya di The Dark Knight itu menegaskan dirinya datang ke festival dengan pertanyaan besar. "Saya benar-benar datang dengan pertanyaan mengapa hanya ada begitu sedikit perempuan di kompetisi utama," tambahnya.
Jajaran Juri dan Proyek Gyllenhaal di Venesia
Gyllenhaal memimpin dewan juri yang beranggotakan sineas Kaouther Ben Hania asal Tunisia—yang filmnya The Voice of Hind Rajab meraih Grand Jury Prize tahun lalu—komposer pemenang Oscar Daniel Blumberg, akademisi film Francesco Casetti, sutradara Prancis Xavier Giannoli, sineas Afganistan Shahrbanoo Sadat, serta legenda sinema Hong Kong Johnnie To.
Mereka bertugas memilih pemenang Singa Emas dari 21 film, termasuk garapan Danny Boyle bertajuk Ink yang mengangkat kisah Rupert Murdoch, film thriller Robert Pattinson berjudul Primetime, Wild Horse Nine karya Martin McDonagh, serta film Korea Possible Love dari Lee Chang-dong yang dinanti-nantikan.
Venesia sendiri memiliki tempat khusus bagi Gyllenhaal. Debut penyutradaraannya, The Lost Daughter, tayang perdana di kompetisi Lido pada 2021 dan membawanya pulang penghargaan skenario terbaik sebelum meraih tiga nominasi Oscar. Tahun ini ia kembali hadir dengan film pendek Flesh Impact yang dibintangi Dakota Johnson, Ellen Burstyn, dan Peter Sarsgaard, tayang di luar kompetisi.
Politisasi Film di Tengah Konflik Global
Konferensi pers juri nyaris batal digelar setelah panitia menyebut adanya "benturan jadwal" dengan salah satu anggota juri pada akhir pekan lalu. Namun akhirnya festival memastikan acara tetap berlangsung seperti biasa.
Ketegangan ini memicu spekulasi soal peran politik dalam edisi ke-83, mengingat konflik Gaza, invasi Rusia ke Ukraina, dan perang AS-Iran membayangi perhelatan. Barbera menggambarkan lineup tahun ini sebagai yang "paling politis" dalam beberapa tahun terakhir.
Saat ditanya apakah sineas punya tanggung jawab bersikap politis, Gyllenhaal menjawab dengan perspektif empati. "Kita bisa berkata, bagaimana mungkin kita di sini membicarakan film ketika dunia dalam keadaan darurat?" katanya.
"Saya percaya film membuka kesempatan untuk menemukan empati di dalam diri kita. Tidak ada subjek atau sineas yang seharusnya tidak didengar. Kita bisa menantang diri untuk mendengar cerita tentang orang paling korup sekalipun, karena itu membuka peluang menemukan empati—bahkan melihat sisi buruk dalam diri kita sendiri."
Ia menyimpulkan bahwa film yang jujur tentang pengalaman manusia pada dasarnya tidak bisa lepas dari dimensi politik. "Jika film benar-benar pandangan jujur ke pengalaman orang lain, maka secara fundamental film pasti politis—di samping banyak hal lainnya."