KEPULAUAN RIAU — Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Setia Diarta membeberkan kesiapan program motor listrik nasional (Molinas) dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI, kemarin. Agenda rapat membahas pengembangan ekosistem dan daya saing industri kendaraan listrik di Indonesia.
Menurut Setia, capaian TKDN Molinas akan mengikuti peta jalan yang sudah ditetapkan Pemerintah. Tahun ini angka 40 persen, tahun depan naik ke 60 persen.
Target TKDN Naik 20 Poin dalam Setahun
"Kesiapan Molinas sendiri, itu pastinya TKDN-nya pasti akan mengikut pada road map yang ada sekarang. Kalau memang nanti sampai tahun ini 40 persen, tahun depan mereka juga sudah menyatakan kesiapan sampai 60 persen," kata Setia dalam rapat tersebut.
Kenaikan TKDN ini bukan sekadar angka di dokumen. Ini menentukan seberapa dalam rantai pasok lokal yang benar-benar terpakai, mulai dari komponen rangka, motor penggerak, sampai sel baterai. Semakin tinggi TKDN, semakin besar peluang Molinas masuk ke skema insentif pemerintah dan program pengadaan instansi.
PT LEN Pegang Peran Lead Integrator
Pemerintah menunjuk PT LEN sebagai lead integrator untuk produksi dan ekosistem Molinas. LEN akan menggandeng sejumlah pihak industri dalam proses manufaktur.
"Untuk Molinas ini ada kapasitas yang kerja sama saat ini yang ada ini bisa sampai 100.000 unit per tahun dan total investasi yang terlibat di sini ada Rp 2,6 triliun. Jadi memang ada beberapa proses manufaktur yang dilakukan di sini dan beberapa industri yang terlibat juga, dan ini mekanismenya adalah mekanismenya bekerja sama dengan LEN dan LEN adalah sebagai lead integrator-nya," jelas Setia.
Kapasitas 100.000 unit per tahun menempatkan Molinas pada skala yang cukup serius untuk pasar motor listrik domestik. Sebagai gambaran, angka itu setara dengan sebagian besar volume penjualan motor listrik nasional dalam beberapa tahun terakhir.
Baterai sampai Aftersales, Ini Peta Ekosistemnya
Setia merinci ekosistem Molinas yang akan melibatkan Danantara. Untuk riset dan pengembangan, LEN tetap menjadi lead integrator.
Di sektor baterai, Molinas akan menggandeng CATIB dan CATL yang pabriknya sudah selesai dibangun di Karawang. Manufaktur dan perakitan akan ditangani LEN mulai 2028. Sementara charging station akan memanfaatkan ekosistem yang sudah ada di PLN.
"Baterai nanti ini akan melibatkan CATIB dan CATL yang (pabriknya) saat ini sudah selesai dibangun di Karawang. Kemudian juga nanti manufaktur dan perakitannya nanti LEN setelah 2028. Charging station ini ekosistem yang ada di PLN. Kemudian juga untuk distribusi serta aftersales-nya dan juga nanti ada pendanaan dan pembiayaan untuk motor listrik," sebut Setia.
Distribusi dan Pembiayaan Jadi Bagian Rantai
Distribusi dan aftersales masuk dalam cakupan ekosistem yang disiapkan. Pemerintah juga menyiapkan skema pendanaan dan pembiayaan khusus untuk motor listrik, menyusul harga motor listrik yang masih menjadi hambatan utama bagi konsumen Indonesia.
Dengan LEN sebagai lead integrator dan pabrik baterai di Karawang yang sudah berdiri, fondasi industri motor listrik nasional mulai terlihat bentuknya. Yang belum jelas dari paparan ini: kapan model produksi pertama meluncur ke pasar dan berapa banderolnya. Kedua hal itu yang paling ditunggu calon pembeli.