Kejuaraan Dunia BWF 2026: Jonatan Christie ke 16 Besar Usai Comeback, Bimo/Arlya Tersingkir di R32

Penulis: Ridwan Azhari  •  Kamis, 20 Agustus 2026 | 10:33:31 WIB
Jonatan Christie memastikan tempat di babak 16 besar Kejuaraan Dunia BWF 2026 setelah menang tiga gim atas Jia Heng Jason Teh.

KEPULAUAN RIAU — Pertandingan sektor tunggal putra di Kejuaraan Dunia BWF 2026 menghadirkan momen menegangkan bagi pendukung Indonesia di New Delhi. Jonatan Christie nyaris tumbang di babak 32 besar saat menghadapi Jia Heng Jason Teh, namun berhasil keluar dari tekanan dan memenangkan pertarungan tiga gim yang berlangsung sengit.

Kemenangan ini mengantarkan Jojo—sapaan akrabnya—ke babak 16 besar. Namun, jalan menuju kemenangan itu tidak mulus. Ia mengakui performanya di awal laga jauh dari kata tenang.

Krisis Kepercayaan Diri di Gim Pertama

Jojo mengaku memulai pertandingan dengan rasa ragu yang besar. Strategi yang sudah disiapkan tidak berjalan sesuai rencana karena ia terlalu tegang dan panik menghadapi tekanan lawan.

"Tadi mainnya masih terlalu tegang, agak panik dan tidak percaya buat penggunaan strategi, pola yang sudah disiapkan jadi serba ragu sampai pertengahan gim pertama," ujar Jonatan dalam keterangan resminya usai laga.

Ia baru bisa keluar dari tekanan tersebut di pertengahan gim kedua. Setelah itu, permainannya mulai berani dan tidak banyak berpikir.

Titik Kritis di Gim Kedua dan Evaluasi Mental

Gim kedua menjadi penentu jalannya pertandingan. Jojo sempat berada di posisi sangat diuntungkan dengan keunggulan 14-20 atas Teh. Situasi itu membuatnya mengendurkan fokus karena mengira lawan akan menyerah untuk bersiap ke gim ketiga.

Asumsi itu keliru. Teh justru mengubah pola permainan dan berhasil mengejar banyak poin, membuat Jojo panik sebelum akhirnya mengamankan gim tersebut. "Beruntung bisa menyelesaikan. Di gim ketiga sudah lebih terbaca permainannya," jelas pemain asal Jakarta itu.

Jojo menilai setiap pertandingan selalu memberikan pelajaran baru, termasuk di turnamen sekelas Kejuaraan Dunia. Ia menyadari bahwa pola yang dipelajari di satu laga belum tentu berlaku di laga berikutnya.

"Agak susahnya hal ini bukan mutlak matematika jadi ketika yang dipelajari kemarin, bisa berbeda di hari ini atau next pertandingannya. Ini yang masih saya nikmati prosesnya setiap hari," pungkasnya.

Bimo/Arlya Tersingkir: Fokus Goyah di Momen Kritis

Nasib berbeda dialami ganda campuran Bimo Prasetyo/Arlya Nabila Thesya Munggaran. Pasangan Indonesia ini harus mengakui keunggulan unggulan ke-13 asal Jepang, Yuichi Shimogami/Sayaka Hobara, dengan skor 13-21 dan 16-21 di babak 32 besar.

Bimo menyebut masalah utama mereka bukan pada pola permainan, melainkan konsistensi mental. Ia merasa timnya sebenarnya mampu mengimbangi permainan lawan, tetapi fokus selalu hilang di poin-poin kritis.

"Dari gim pertama sampai kedua, kami fokus pikirannya selalu goyah, naik turun. Selalu dari sudah unggul atau poin yang mepet-mepet, fokusnya hilang," kata Bimo.

Arlya menambahkan bahwa kekalahan ini menjadi bahan evaluasi besar. Ia menyoroti kemampuan timnya dalam mempertahankan keunggulan dan menghadapi situasi poin kritis di masa depan.

"Banyak pelajaran yang bisa kami ambil hari ini. Dari cara mainnya, fokusnya, bagaimana mengatasi poin-poin kritis, bagaimana cara mempertahankan keunggulan. Kami juga harus menambah kekuatan tangan," ujar Arlya.

Dengan hasil ini, Indonesia masih memiliki wakil di sektor tunggal putra melalui Jonatan Christie. Ia akan menantikan lawan di babak 16 besar yang akan menentukan langkah selanjutnya di turnamen bergengsi ini.

Reporter: Ridwan Azhari
Sumber: nusadaily.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top