Riset Counterpoint: Penjualan HP Global Anjlok, Apple Justru Tumbuh di Tengah Tekanan Inflasi

Penulis: Mahsyar Hamdani  •  Jumat, 21 Agustus 2026 | 14:38:01 WIB
Penjualan ponsel global menurun akibat inflasi biaya komponen dan melemahnya daya beli masyarakat.

KEPULAUAN RIAU — Tekanan inflasi biaya komponen memori dan daya beli masyarakat yang melemah terus menghantam industri ponsel global. Data terbaru dari Counterpoint Research yang dirilis sepanjang pekan ini mengonfirmasi tren penurunan tersebut, dengan pasar Eropa mencapai titik terendah dalam tiga tahun terakhir.

Namun, di tengah lesunya permintaan, Apple justru tampil sebagai pemenang. Vendor asal Cupertino ini mencatat pertumbuhan penjualan di dua pasar utama, India dan Amerika Latin, serta berhasil mempertahankan pangsa pasar di Eropa berkat pergeseran konsumen dari merek Android kelas menengah.

Eropa: Apple Samai Samsung di Posisi Puncak

Laporan yang dirilis kemarin mencatat pengiriman ponsel di Eropa turun 10 persen year-on-year (YoY) pada kuartal kedua 2026. Ini merupakan volume terendah yang pernah dicatat pasar tersebut dalam tiga tahun terakhir.

Meski pasar menyusut, Apple justru menambah porsi pengirimannya sebanyak sembilan poin persentase, menyamai Samsung yang sama-sama menguasai 34 persen pangsa pasar. Di sisi lain, vendor asal China seperti Xiaomi, Oppo, dan Honor kehilangan pangsa pasar, masing-masing menutup kuartal dengan 15 persen, 4 persen, dan 3 persen.

China: Lesu Setelah Pesta Belanja 618

Di China, Counterpoint mencatat pasar ponsel terkontraksi 8,6 persen YoY selama 30 minggu pertama 2026. Penurunan disebut kembali menyentuh dua digit setelah periode festival belanja 618 berakhir, dipengaruhi lemahnya permintaan musiman dan inflasi biaya memori yang berkelanjutan.

Counterpoint menyebut Apple memasuki "periode perlambatan musiman" pada Juli, menjelang peluncuran lini iPhone terbaru yang dijadwalkan bulan depan. Sebagian besar permintaan iPhone disebut sudah ditarik lebih awal oleh konsumen saat ajang 618 berlangsung.

India: Pertumbuhan Apple 15 Persen di Tengah Pasar yang Tertekan

Pasar India mencatat tiga pekan beruntun penurunan penjualan tahunan setelah gelaran belanja online besar pada Juli. Secara kumulatif, penjualan pada pekan ke-14 hingga ke-31 turun 14 persen, dengan hanya dua pekan yang mencatat pertumbuhan, keduanya bertepatan dengan momen promosi besar.

Apple kembali melawan arus dengan pertumbuhan penjualan 15 persen YoY pada periode yang sama. Counterpoint menyebut capaian ini sebagai pertumbuhan terkuat di antara semua merek, "didorong oleh permintaan berkelanjutan untuk seri iPhone 17 dan penawaran keterjangkauan yang terus berlanjut."

Asia Tenggara dan Posisi Apple di Pasar Premium

Kondisi serupa terjadi di Amerika Latin. Laporan yang dirilis hari ini mencatat pengiriman ponsel di kawasan tersebut turun 10 persen YoY pada kuartal kedua 2026. Apple dan Samsung menjadi dua-satunya merek besar yang mencatat pertumbuhan, masing-masing naik 5 persen dan 6 persen.

Untuk pasar Indonesia, pola serupa berpotensi terulang. Segmen HP premium di atas Rp 10 juta umumnya lebih tahan terhadap tekanan ekonomi dibanding kelas menengah. Counterpoint mencatat Apple memimpin segmen harga tinggi dan premium di Amerika Latin dengan pangsa sekitar 51 persen, sementara Samsung menjadi pesaing terdekat dengan 40 persen.

Di kawasan Asia Tenggara, dinamika serupa kerap terjadi—konsumen kelas menengah menunda upgrade, sementara pembeli flagship tetap bertahan. Hal ini menjelaskan mengapa Apple mampu tumbuh di tengah pasar yang menyusut.

Mengapa Apple Kebal Terhadap Perlambatan?

Strategi Apple di pasar berkembang patut dicermati. Di Amerika Latin, Counterpoint mencatat pertumbuhan Apple didorong keputusan perusahaan untuk menyerap kenaikan harga, alih-alih membebankannya ke konsumen. Permintaan yang konsisten untuk iPhone 17 Pro Max dan momentum iPhone 17e yang dirilis akhir Maret turut berkontribusi.

Pendekatan ini berbeda dengan mayoritas vendor Android yang mengandalkan volume di kelas entry-level dan menengah—segmen yang paling rentan terhadap inflasi biaya komponen. Ketika harga RAM dan storage naik, vendor di segmen ini terpaksa menaikkan harga jual atau mengurangi margin, yang pada akhirnya menekan permintaan.

Dampak ke Konsumen Indonesia

Bagi pembeli di Indonesia, tren ini berarti harga HP Android kelas menengah berpotensi terus naik dalam beberapa bulan ke depan. Sementara itu, kompetisi di segmen premium kemungkinan tetap ketat, dengan Apple dan Samsung saling beradu strategi harga dan promosi.

Jika pola global bertahan, konsumen yang mencari flagship dengan nilai terbaik mungkin perlu menunggu momen festival belanja besar seperti Harbolnas atau akhir tahun untuk mendapatkan penawaran terbaik.

Reporter: Mahsyar Hamdani
Sumber: 9to5mac.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top