BATAM — Angka investasi yang masuk ke Batam pada paruh pertama 2026 tercatat Rp29,89 triliun. Jumlah itu setara 42,7 persen dari target yang dipasang BP Batam sebesar Rp70 triliun untuk tahun ini.
Capaian enam bulan tersebut sudah melampaui total realisasi investasi sepanjang 2024 yang sebesar Rp25,46 triliun. Dibandingkan perolehan 2025 yang mencapai Rp44,01 triliun, capaian semester I 2026 ini setara 67,9 persen.
Direktur Investasi BP Batam Dendi Gustianandar mengatakan percepatan ini terjadi karena perubahan etos kerja pelayanan. “Apa yang tadinya kita hitungan tahunan, saat ini semua diperpendek dengan etos kerja pelayanan dan juga keseriusan kita,” kata Dendi saat memaparkan perkembangan investasi di Gedung BP Batam, Rabu, 26 Agustus 2026 siang.
Tren pertumbuhan investasi di Batam terlihat konsisten naik sejak 2023. Data BP Batam mencatat realisasi investasi 2023 sebesar Rp15,99 triliun, lalu naik ke Rp25,46 triliun pada 2024, dan melonjak signifikan menjadi Rp44,01 triliun pada 2025.
Dendi menilai lompatan ini menunjukkan Batam semakin dipercaya sebagai destinasi investasi. Ia menyebut transformasi ekonomi sedang berlangsung di kota itu.
“Batam berkembang menjadi platform terintegrasi bagi manufaktur berteknologi tinggi, ekonomi digital, logistik, dan layanan industri,” ujarnya.
Dari sisi asal modal asing, Singapura masih mendominasi dengan nilai investasi Rp10,89 triliun. Posisi berikutnya ditempati Hong Kong Rp1,39 triliun, Korea Selatan Rp1,18 triliun, Tiongkok Rp1,11 triliun, Amerika Serikat Rp1,02 triliun, dan Jepang Rp500 miliar.
Masuknya Korea Selatan dan Amerika Serikat ke dalam jajaran enam besar menjadi perhatian tersendiri. Dendi mengatakan kedua negara tersebut hampir tidak pernah tercatat dalam daftar investor utama Batam sebelumnya.
“Yang paling menarik dari enam investor utama ada dua investor dari negara yang baru masuk, yakni Korea Selatan dan Amerika. Hampir tidak pernah ada dua negara ini,” jelasnya.
Industri elektronik dan peralatan presisi masih menjadi penyumbang terbesar investasi dengan nilai Rp6,87 triliun atau 23 persen dari total realisasi semester I 2026. Sektor ini diikuti jasa dan infrastruktur digital Rp6,09 triliun (20,4 persen), industri kimia dan farmasi Rp3,97 triliun (13,3 persen), kawasan industri dan perkantoran Rp3,52 triliun (11,8 persen), serta transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi Rp2,55 triliun (8,5 persen).
“Selalu ditempati oleh elektronik. Karena memang fundamentalnya Batam di situ,” kata Dendi. Ia menambahkan, sektor kimia dan farmasi tumbuh hampir tiga kali lipat dan mulai menjadi primadona baru.
Advanced manufacturing elektronik tercatat tumbuh sekitar 122 persen. Sementara itu, investasi pada digital manufacturing dan data center mencapai Rp4,51 triliun.
Penanaman Modal Asing (PMA) menyumbang Rp17,80 triliun atau tumbuh 53,7 persen, setara 59,6 persen dari total investasi. Adapun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp12,09 triliun dengan pertumbuhan 78,2 persen, menyumbang 40,4 persen.
Dari total investasi yang masuk, Rp14,02 triliun atau 46,9 persen sudah berada pada tahap produksi. Sisanya, Rp15,87 triliun (53,1 persen), masih dalam tahap konstruksi.
Berdasarkan laporan kegiatan penanaman modal (LKPM), investasi ini telah menyerap 40.423 tenaga kerja. Sebanyak 98,7 persen di antaranya merupakan pekerja Indonesia.
Aktivitas direct call internasional melalui Pelabuhan Batu Ampar juga meningkat 212 persen. Angka ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Batam pada 2025 yang mencapai 6,76 persen.