Pencarian

Usaha Rujak Jambu Kristal Zaharoh di Natuna Bertahan Lima Tahun di Tengah Lesunya Daya Beli, Omzet Turun Drastis

Selasa, 07 Juli 2026 • 17:01:36 WIB
Usaha Rujak Jambu Kristal Zaharoh di Natuna Bertahan Lima Tahun di Tengah Lesunya Daya Beli, Omzet Turun Drastis
Zaharoh mempertahankan usaha rujak jambu kristalnya selama lima tahun di Natuna meski omzet menurun drastis.

NATUNA — Zaharoh, mantan jurnalis yang kini menjadi pelaku UMKM, mengaku omzet harian usahanya saat ini sulit menembus Rp400 ribu. Padahal, saat awal merintis pada 2021, ia bisa meraup Rp800 ribu hingga Rp1 juta dalam sehari. “Sekarang ekonomi memang tidak baik-baik saja,” ujarnya kepada koranperbatasan.com, Sabtu (4/7/2026).

Meski omzet turun lebih dari setengahnya, Rujak Jambu Kristal Zaharoh tetap menjadi salah satu camilan favorit warga Natuna. Keunikan rujaknya terletak pada bumbu tabur khas yang terbuat dari campuran garam, gula, dan bubuk cabai kering yang dihaluskan, berbeda dari rujak pada umumnya yang menggunakan bumbu kacang atau petis.

Bumbu Tabur Khas dan Pilihan Buah Campuran

Pelanggan diberi kebebasan memilih tingkat kepedasan serta cara penyajian bumbu, baik dicampur langsung dengan buah maupun dipisahkan. Selain jambu kristal, Zaharoh juga menyediakan paket campuran dengan jambu air, jambu madu, nanas, atau mangga apel sesuai musim panen.

Harga satu porsi standar dibanderol Rp15 ribu. “Kalau ada yang ingin porsi Rp10 ribu juga tetap kami layani. Kalau mau campur dengan buah lain juga bisa, tergantung ketersediaan,” kata Zaharoh.

Pasokan Jambu dari Pontianak, Terkendala Cuaca Ekstrem

Untuk menjaga kualitas, Zaharoh mendatangkan pasokan jambu kristal dari Pontianak. Ia mengaku hasil panen petani lokal belum mampu memenuhi kebutuhan usahanya secara berkelanjutan. Namun, ketergantungan pada pasokan luar daerah membawa risiko tersendiri.

“Kendalanya kalau angin kencang kapal tidak bisa masuk atau kebun di daerah pemasok belum panen. Sementara ketahanan jambu kristal hanya sekitar 10 hari. Setelah itu buah akan semakin matang dan akhirnya membusuk,” jelasnya.

Untuk mengurangi risiko kerugian, Zaharoh kini mengurangi jumlah pemesanan. Jika sebelumnya ia memesan tiga keranjang atau sekitar 80-100 kilogram untuk kebutuhan 10 hari, kini hanya sekitar satu keranjang atau 50 kilogram.

Dari Jurnalis ke Pelaku UMKM: Pengalaman yang Membantu

Sebelum merintis usaha camilan ini, Zaharoh sempat berkarier sebagai jurnalis pada 2010 hingga 2011. Ia mengaku pengalaman tersebut membantunya membangun relasi dan memahami perkembangan masyarakat Natuna.

Menatap ke depan, Zaharoh berharap kondisi perekonomian Natuna segera membaik. “Kalau daya beli masyarakat meningkat, tentu usaha-usaha kecil seperti kami juga ikut berkembang,” pungkasnya.

Bagikan
Sumber: koranperbatasan.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks