NATUNA — Puluhan mitra yang tersebar di beberapa kecamatan, termasuk dua di antaranya yang berada di pulau terpencil, kini menjadi ujung tombak distribusi beras medium Bulog. Pemimpin Perum Bulog Cabang Natuna, Pencius Siburian, mengatakan setiap mitra wajib terdaftar secara resmi agar distribusi dapat dipantau mulai dari jumlah stok hingga harga jual di tingkat pengecer.
Mekanisme Pengawasan: Laporan Berkala dan Pembatasan Pembelian
Bulog menerapkan kebijakan ketat untuk mencegah penimbunan dan praktik penjualan kembali oleh pihak tidak bertanggung jawab. Setiap mitra hanya boleh membeli maksimal dua ton beras atau sesuai kapasitas penyimpanan toko dalam satu kali pengambilan.
"Kita pantau terus penjualan hingga harganya, jadi tidak boleh dijual di atas HET. Jika ditemukan pelanggaran, akan diberikan pembinaan," ujar Pencius dalam keterangannya, Selasa.
Selain itu, para mitra wajib menyampaikan laporan berkala kepada Bulog. Laporan tersebut menjadi dasar bagi Bulog untuk memantau ketersediaan stok sekaligus menentukan kebutuhan penambahan pasokan di masing-masing toko.
Operasi Pasar dan Gerakan Pangan Murah Jadi Saluran Tambahan
Distribusi beras SPHP tidak hanya melalui mitra tetap. Bulog juga menjual beras tersebut dalam kegiatan operasi pasar murah dan gerakan pangan murah yang digelar secara berkala. Langkah ini menyasar masyarakat yang mungkin tidak terjangkau oleh jaringan toko mitra.
Dengan total 58 mitra yang tersebar, Bulog Natuna berharap harga beras medium di tingkat konsumen tetap stabil. Hal ini penting mengingat Natuna merupakan wilayah perbatasan yang rentan terhadap fluktuasi pasokan dan harga pangan.
Pencius menambahkan, kerja sama dengan para pemilik warung dan kios ini juga bertujuan untuk memperpendek rantai distribusi sehingga harga yang diterima masyarakat lebih murah dibandingkan jika melalui tengkulak.