KEPULAUAN RIAU — Kontrak berjangka CPO acuan untuk pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup turun 0,04 persen menjadi 4.535 ringgit Malaysia per ton pada akhir pekan lalu. Namun, secara mingguan, harga masih membukukan kenaikan tipis sebesar 1,09 persen.
Seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur mengatakan, seperti dikutip Reuters, perdagangan pada Jumat lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal. Pergerakan harga minyak nabati di bursa Dalian dan harga minyak kedelai menjadi penekan utama.
Sentimen pasar juga cenderung menguat menjelang libur panjang. Perdagangan futures minyak sawit akan ditutup pada 1-2 Juni dan kembali dibuka pada 3 Juni.
Minyak Nabati Pesaing Masih Bayangi Permintaan Global
Kenaikan harga CPO dalam dua pekan terakhir terjadi di tengah ketidakpastian permintaan global. Pasar masih mencermati pergerakan harga minyak kedelai dan minyak rapeseed yang menjadi kompetitor utama minyak sawit di pasar nabati dunia.
Fluktuasi harga minyak nabati pesaing kerap memengaruhi keputusan pembeli internasional, terutama dari India dan China yang merupakan importir utama CPO Indonesia dan Malaysia.
Hingga akhir pekan lalu, pasar masih menunggu data permintaan dari negara-negara pengimpor utama. Trader menilai pergerakan harga ke depan akan sangat tergantung pada kebijakan impor negara tujuan dan perkembangan produksi minyak nabati global.