Pencarian

7 Festival Budaya Kepulauan Riau yang Wajib Masuk Daftar Perjalananmu

Rabu, 15 Juli 2026 • 13:50:01 WIB
7 Festival Budaya Kepulauan Riau yang Wajib Masuk Daftar Perjalananmu
Warga menyaksikan perahu hias melintas di Selat Singapura saat Festival Bahari Batam, September lalu.

Di pesisir timur Sumatra, Kepulauan Riau bukan cuma surga visa dan pusat industri maritim. Di balik gemerlap Batam dan hiruk-pikuk Tanjungpinang, ada denyut budaya yang bertahan dari generasi ke generasi. Festival-festival di sini bukan sekadar atraksi turistik—ia adalah napas masyarakat Melayu yang masih hidup.

Saya sempat tinggal dua tahun di Tanjungpinang dan menyaksikan sendiri bagaimana warga lokal mempersiapkan perayaan ini berbulan-bulan. Dari sini, saya catat tujuh festival yang menurut saya paling layak kamu rencanakan perjalanannya.

1. Festival Bahari Batam

Setiap tahun di bulan September, pesisir Batam berubah jadi panggung raksasa. Perahu-perahu hias berlayar perlahan di Selat Singapura, sementara lomba dayung perahu naga memecah sunyi. Warga Tionghoa dan Melayu duduk berdampingan di bibir pantai.

Yang paling menarik: ritual doa bersama sebelum perahu diluncurkan. Di sinilah kamu bisa merasakan percampuran budaya yang jadi ciri khas Kepri. Datanglah pagi-pagi, karena acara puncak biasanya dimulai pukul delapan.

2. Kenduri Suku Laut di Pulau Penyengat

Pulau Penyengat—yang terkenal dengan masjid kuningnya—juga jadi rumah bagi komunitas Suku Laut. Festival ini biasanya digelar saat musim timur, antara Juni hingga Agustus. Ritual tepuk tepung tawar dan makan bersama di perahu jadi inti acara.

Saya ingat betul: seorang tetua Suku Laut bercerita bahwa tradisi ini sudah berusia lebih dari seratus tahun. Mereka percaya, laut bukan sekadar tempat mencari ikan, melainkan ibu yang memberi kehidupan. Jangan lupa minta izin sebelum memotret—mereka sangat menghargai privasi.

3. Pacu Perahu Tradisional di Sungai Carang

Di Kota Tanjungpinang, tepatnya di Sungai Carang, lomba pacu perahu digelar setiap Agustus untuk merayakan HUT RI. Bedanya dengan pacu perahu di tempat lain: perahu di sini dihias dengan warna-warna cerah dan diiringi tabuhan kompang.

Penonton bisa duduk di tepi sungai sambil menikmati kue tradisional seperti otak-otak dan sate lilit. Suasananya meriah, tapi tetap santai. Kalau kamu datang, bawa topi—panasnya siang hari di Tanjungpinang bukan main.

4. Festival Tabot Bengkalis (Perbatasan Riau-Kepri)

Meski lebih sering dikaitkan dengan Bengkalis, festival ini juga dirayakan di beberapa wilayah Kepri yang berbatasan. Tabot adalah tradisi peringatan Asyura yang dibawa oleh komunitas India-Muslim. Prosesi arak-arakan tabot—semacam peti hias—berlangsung selama sepuluh hari.

Di Tanjungpinang, prosesinya lebih sederhana tapi tetap khidmat. Warga bergantian memikul tabot sambil melantunkan shalawat. Ini momen langka untuk melihat bagaimana Islam dan budaya lokal berpadu tanpa kehilangan esensinya.

5. Ritual Mandi Syafar di Pulau Bintan

Setiap bulan Safar dalam kalender Hijriah, warga pesisir Bintan menggelar ritual mandi bersama di laut. Mereka percaya, air laut yang didoakan bisa menolak bala dan membersihkan jiwa. Ritual ini biasanya dipimpin oleh seorang dukun kampung yang sudah ditunjuk turun-temurun.

Yang membuatnya unik: sebelum mandi, mereka mengarak perahu mini berisi sesajen ke tengah laut. Perahu itu kemudian dibiarkan hanyut—simbol melepas kesialan. Kalau kamu tertarik, datanglah ke Desa Busung atau Desa Malang Rapat saat bulan Safar tiba.

6. Festival Melayu Serumpun di Tanjungpinang

Acara tahunan yang digelar Dinas Kebudayaan Kepri ini biasanya berlangsung di Tugu Sirih, pusat Kota Tanjungpinang. Selama seminggu penuh, kamu bisa menikmati tari zapin, musik gambus, dan lomba berpantun. Ada juga pameran kuliner yang menjual nasi dagang, laksam, dan sambal terasi khas Melayu.

Yang paling saya suka: lomba baca puisi Melayu. Anak-anak muda dari seluruh Kepri berkumpul dan melantunkan sajak-sajak lama dengan logat yang khas. Ini bukti bahwa budaya Melayu tidak mati—ia hanya menunggu panggung yang tepat.

7. Tradisi Bakar Tongkang di Bagansiapiapi (Perbatasan Riau-Kepri)

Meski secara administratif masuk Riau, tradisi ini sangat populer di kalangan warga Kepri yang punya hubungan dagang dengan Bagansiapiapi. Setiap Juni, replika tongkang dibakar sebagai simbol penghormatan kepada dewa laut. Ribuan lampion dilepaskan ke langit malam.

Warga Tionghoa di Tanjungpinang dan Batam sering menyewa kapal untuk menyaksikan langsung. Suasananya spektakuler—api membakar tongkang sementara petasan berbunyi di mana-mana. Tapi ingat, lokasinya cukup jauh dari pusat kota, jadi rencanakan perjalanan dengan matang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan waktu terbaik mengunjungi Kepri untuk menonton festival?
Bulan Juni hingga September adalah puncak festival budaya di Kepri. Cuaca relatif cerah, meski kadang hujan singkat di sore hari.

Apakah festival-festival ini gratis?
Sebagian besar gratis untuk ditonton. Beberapa acara seperti pameran kuliner mungkin memungut biaya masuk kecil, tapi jumlahnya tidak signifikan.

Bagaimana akses ke lokasi festival?
Dari Batam, kamu bisa naik ferry ke Tanjungpinang (sekitar 45 menit). Dari sana, transportasi umum seperti ojek dan angkot tersedia ke berbagai lokasi. Untuk Pulau Penyengat, naik perahu motor dari Dermaga Sri Bintan Pura.

Apakah anak-anak boleh ikut?
Boleh. Sebagian besar festival ramah anak, kecuali ritual tertentu yang berlangsung larut malam. Pastikan anak-anak tetap dalam pengawasan.

Bahasa apa yang digunakan di festival?
Bahasa Melayu Kepri dan Indonesia. Sebagian pemandu acara juga bisa berbahasa Inggris, terutama di festival besar seperti Festival Bahari Batam.

Kepulauan Riau bukan sekadar tempat singgah menuju Singapura atau Malaysia. Di setiap sudutnya, ada festival yang menunggu untuk kamu saksikan. Datanglah dengan hati terbuka, dan biarkan budaya Melayu, Tionghoa, dan Suku Laut berbicara langsung padamu. Saya jamin, pengalaman ini tidak akan kamu dapatkan di tempat lain.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks